Category: Catatan

Tulisan tentang manusia, kehidupan, teknologi, media, dan hal-hal yang saya pikirkan.

  • Satu Pagi Di Rumah Sakit

    Satu Pagi Di Rumah Sakit

    Sesungguhnya niat saja tidak cukup berguna jika tidak dibarengi dengan menyetel alarm. Saya bangun kesiangan padahal seharusnya saya berangkat lebih pagi untuk mengantri pendaftaran berobat dengan BPJS.

    Firasat saya betul. Saya mendapat nomor 78 ketika papan monitor menunjukkan pasien nomor 15 yang sedang diproses pendaftarannya. Setelah hampir 2 jam, nomor antrian saya dipanggil.

    Salah satu petugas di belakang meja pendaftaran itu bertanya ketika melihat saya membawa berkas pendaftaran.

    Saya jawab, “Saya nomor 78.”

    Dia kembali bertanya lagi.

    Saya jawab lagi, “Iya. Saya nomor 78.”

    Kali ini perempuan itu bertanya lagi dengan mata memandang saya.

    “Nomor 78, mbak. Nomor 78.”

    “Iya, bapak nomor 78. Tapi bapak mau ke dokter spesialis apa?” Tanya perempuan itu dengan suara yang lebih jelas.

    “Ke THT, mbak.”

    Sekarang saya sudah mengantri di poli THT berbaur dengan pasien lain yang mengantri di poli lain. Dokter belum datang. Para pasien mengobrol. Berisik sekali.

  • ANAK MUDA PENJAJA SMARTPHONE

    ANAK MUDA PENJAJA SMARTPHONE

    Anak muda ini cekatan sekali memberi saran untuk hampir segala urusan pembelian smartphone di toko tempat dia bekerja. Untuk urusan pembayaran, misal, dia menyarankan menggunakan kartu kredit. “Harganya lebih murah, dan dapat cash back juga,” begitu alasannya.

    Untuk urusan jenis handphone yang sebaikya dibeli, dia terlebih dulu akan bertanya soal kebiasaan dan kedoyanan si calon pembeli. Barulah setelah itu ia akan menyarankan calon pembelinya untuk memilih beberapa jenis smartphone.

    “Kalau tidak untuk main game, atau tidak banyak membuka aplikasi, smartphone yang ini sudah sangat bagus. Prosessornya quad core dan RAM-nya sudah 1,5 Gb,” katanya sambil menimang smartphone berukur 5 inchi.

    “Ada yang RAM-nya 2 Gb?”

    “Ada. Tapi kalau membeli smartphone sebaiknya jangan cuma melihat RAM-nya. Yang menentukan kecepatan itu prosessornya. RAM kan cuma untuk menyimpan aplikasi,” katanya sambil menyodorkan smartphone jenis yang lain.

    Saya manggut-manggut.

    Giliran soal baterai, anak muda yang rambutnya berpomade itu menyarankan, “Kecuali sangat terpaksa sekali, hindari mengisi baterai smartphone dengan charger di mobil supaya baterai lebih awet.”

    Sebelum saya sempat bertanya lagi, anak muda ini sudah begitu cekatan memberi wawasan baru, “Listriknya kan beda. Kalau listrik di rumah kan dari PLN. Kalau yang di mobil kan listriknya dari bensin.”

    Saya manggut-manggut lagi. Siang itu baru pukul setengah tiga. Magrib masih lama.

  • Senja Koran Pagi

    Senja Koran Pagi

    Butuh waktu beberapa menit untuk menduga-duga asal suara benda yang dilemparkan ke car port kosong kami di pagi buta tadi.

    “Koran,” duganya. Saya sangsi. Kira-kira 10 tahun saya sudah tidak mendengar suara koran jatuh yang dilempar lopernya ke beranda rumah kami.

    “Kita tidak berlangganan koran.”

    “Itu pasti koran,” sekarang suaranya lebih yakin. “Anakmu bulan lalu ikut Kelas Fotografi. Bonusnya, berlangganan koran gratis sebulan.”

    Benar. Koran. Tidak hanya satu, melainkan tiga sekaligus; bertanggal 1, 2 dan 3 Maret.

    Koran harian diantar tiga harian?

    Kau tak salah, setiap pagi adalah senja bagi koran pada hari-hari ini.

  • Penerbit Buku Boleh Tak Mati Kutu

    Penerbit Buku Boleh Tak Mati Kutu

    Sudahlah. Penjualan e-book sudah pasti meningkat berlipat-lipat ketimbang waktu-waktu sebelumnya. Itu masuk akal kok. Coba tengok: harga e-reader makin murah, bahkan konsumen cukup mendayagunakan ponselnya untuk membaca e-book, dan judul-judul buku yang terbit dalam format e-book makin banyak.

    Pada saat yang sama penjualan buku fisik mungkin menurun. Di Inggris, ketika penjualan e-novel naik lebih 3 kali lipat, penjualan buku fisik tahun 2011 turun lebih dari 10% ketimbang 2010.

    Meski penjualan e-book cenderung naik dari tahun ke tahun, namun konstribusi omset e-book belumlah menjadi mayoritas. Di Amerika Serikat yang penjualan seluruh jenis buku tahun 2011 turun 2,5% ketimbang 2010, di kategori novel dewasa, e-book menyumbang 30% omset penjualan. Sedangkan di kategori buku-buku yang ditujukan untuk anak-anak, e-book hanya menyumbang 15% kepada omset penjualan.

    Dari sisi omset, e-book belum menjadi mayoritas penyumbang hasil penjualan. Tapi dari sisi oplah terjual, di toko buku amazon.com, e-book sudah melampaui capaian buku cetak. Setiap 100 buku cetak terjual, ada 114 e-book yang di-download pembeli.

    Yang perlu dicatat juga bahwa tidak semua pembeli e-book sebegitu fanatik sehingga hanya mau membeli buku dalam format e-book. Sebuah laporan yang diterbitkan akhir Juli lalu oleh Book Industry Study Group memperlihatkan bahwa ada penurunan pembeli e-book yang melulu hanya memilih buku berformat e-book. Pembeli e-book kelompok ini pada Agustus 2011 mencapai 70%, sedangkan pada Mei 2012 turun menjadi 60%. Sebaliknya, pembeli e-book yang masih mau membeli buku dalam format cetak malah naik persentasenya. Semula 25% menjadi 34%.

    Ini sekadar memperlihatkan bahwa, di negara-negara yang masyarakatnya sudah gandrung dengan e-book sekalipun, penerbit buku cetak masih belum akan mati gara-gara e-book. Setidaknya, belumlah dalam waktu dekat. Nah, apalagi di Indonesia.

    Tentu saja ini tidak berarti bahwa para penerbit tradisional boleh mengabaikan trend penerbitan e-book. Era digital memberikan banyak tantangan kepada penerbit untuk membidik peluang-peluang baru. Bagi penerbit, era masa kini bukanlah sekadar era mengkonversi buku cetak menjadi dokumen digital. Tidak sesederhana itu. Ada sejumlah perubahan yang sedang terjadi di tengah para pembaca buku yang harus direspon oleh kalangan penerbit.

    Menjadi Content Provider?

    Preferensi pembaca untuk memilih sumber bacaan dan format informasi berubah. Internet telah menyediakan begitu banyak bacaan dan informasi bagi mereka. Ini cukup memberi alasan bagi banyak pembaca untuk tak lagi membeli beberapa jenis buku -baik berformat cetak maupun e-book. Untuk beberapa jenis kebutuhan informasi, mereka bahkan sudah tak lagi menjadi pembaca teks; mereka mungkin menjadi penonton di Youtube; atau mereka mungkin menjadi pengguna aplikasi tablet.

    Untuk mengantisipasi ini, beberapa penerbit buku membangun divisi baru yang bertanggungjawab untuk mengantisipasi kebutuhan pengembangan aplikasi-aplikasi komputer yang menjadi turunan dari buku yang mereka terbitkan. Bahkan bisa jadi perkambangan itu pun mendorong penerbit buku untuk mengevaluasi visi mereka dan menafsirkan ulang apa yang selama ini disebut sebagai “penerbit buku”. Selain tetap bertahan dalam pengertian tradisonal penerbit buku dengan tambahan format baru digital, salah satu opsi lain bagi penerbit buku di era digital adalah bertransformasi menjadi content provider yang siap untuk dicocokan dengan berbagai platform.

    Membaca dan Menulis di Era Jaringan Sosial

    Kultur media sosial yang dijalani oleh sebagai besar pembaca muda juga telah membuat perilaku membaca berubah. Semula, kita tahu, kegiatan membaca adalah kegiatan penyendiri: Si pembaca membaca buku sendirian; mencernanya sendirian; menikmatinya sendirian pula. Gara-gara itu, kutubuku seringkali digambarkan sebagai orang aneh penyendiri.

    Sekarang tidak lagi harus begitu. Kegiatan membaca adalah kegiatan sosial. Di media sosial sekarang pembaca saling berinteraksi dengan pembaca lainnya bukan hanya soal buku yang sudah selesai mereka baca, melainkan juga buku yang sedang mereka baca. Para pembaca bisa membaca, mecerna, dan menikmati sebuah buku secara bersama-sama dengan sesama pembaca maupun penulisnya. Sekarang kutubuku lebih sering digambarkan sebagai orang keren. Inilah yang disebut social reading. Beberapa pihak saat ini sedang mengembangkan platform yang akan membuat social reading semakin mulus dan menarik untuk dilangsungkan.

    Bagi penerbit, perbincangan yang seru tentang sebuah buku di media sosial macam itu akan bersinggungan dengan urusan promosi, layanan pembaca dan penulis, dan juga pastilah penjualan. Mereka yang bekerja di bagian promosi dan layanan pembeli di industri ini harus menguasai betul karakter komunikasi media sosial. Mereka yang bertanggungjawab di bagian penjualan harus menyiapkan strategi yang akan memudahkan siapapun untuk membeli buku yang sedang menjadi bahan perbincangan seru itu.

    Social reading dan keasikan orang hidup di media sosial, sekecil apapun, akan mempengaruhi penjualan di toko buku berlantai. Terlebih jika kelompok pembaca yang hidup asik di media sosial ini juga lebih menyukai toko buku online ketimbang toko buku berlantai. Tingkat kunjungan pembeli ke toko buku berlantai akan menurun. Penjualan yang biasanya diperoleh dari kelompok impulsive buyer di toko buku berlantai pun mungkin akan berkurang karena keputusan untuk membeli buku tertentu sudah dibuat sejak mereka berada di media sosial.

    Pergeseran perilaku pembaca macam itu, bagi penerbit, seharusnya merupakan peluang. Kenapa? Media sosial dan perilaku social reading memberikan ruang lebih lebar bagi penerbit untuk menampilkan bukunya ketimbang rak-rak di toko buku berlantai.

    Bagaimanapun, rak-rak di toko buku itu terbatas. Perluasannya tidak seimbang dengan pertumbuhan judul buku yang diproduksi penerbit. Itu sebabnya pengelola toko buku berlantai semakin memperketat diri dalam menerima buku yang akan dipajang di rak tokonya, dan makin mempercepat masa pajang bagi buku-buku yang tidak memenuhi kriteria penjualan mereka. Sementara media sosial tak mempunyai keterbatasan ruang semacam itu. Lagi pula, selama sebuah buku menarik untuk diperbincangkan –apalagi jika pengarangnya juga cukup aktif berinteraksi, maka buku tersebut akan selalu tampil di media sosial. Tantangan bagi penerbit adalah mengubah perbincangan menjadi penjualan.

    Budaya jaringan dan media sosial bukan melulu menyodorkan perilaku baru dalam membaca buku. Seperti juga berlaku pada bidang-bidang lain, budaya ini juga menumbuhkan tuntutan agar konsumen dalam kadar tertentu “didengar” dan “dipertimbangkan” dalam pengambilan keputusan yang menyangkut produksi. Dalam hal penerbitan buku, budaya ini menuntut agar dalam kadar tertentu pembaca dilibatkan dalam proses penulisan buku.

    Seperti juga membaca, dalam budaya jaringan dan media sosial, menulis juga bisa bukan lagi kegiatan penyendiri. Penulis melibatkan calon-calon pembacanya dalam proses penulisan. Sebelum naskahnya benar-benar siap untuk diterbitkan, penulis bisa bolak balik meminta masukan dari komunitas calon pembeli bukunya atas karangan yang sedang dia susun. Inilah model kerja penerbitan yang sedang hangat diperbincangkan di kalangan penerbit belakangan ini: agile publishing.

    Agile publishing berbeda dengan menulis dan menerbitkan secara keroyokan. Penulis tetap bekerja sendiri namun dalam proses penulisan ia sungguh melakukan perbicangan dengan komunitas calon pembeli bukunya. Model kerja macam ini diyakini akan menghasilkan buku yang sesuai dengan kebutuhan pembaca dan mempercepat masa penulisan.

    Penerbit jelas harus punya peran dalam model agile publishing ini. Penerbit harus memberikan dukungan dan sumber daya,  teknis maupun kreatif, dalam mengembangkan dan menumbuhkan perbincangan antara penulis dan komunitas pembacanya itu.

    Dibunuh oleh Self Publishing?

    Di era digital, tentu saja dalam format e-book, buku lebih mudah disebarkan. Tak ada proses menggandakan buku yang makan banyak biaya. Dalam format digital, buku tidaklah digandakan, melainkan cuma disalin. Penerbit hanya perlu menyediakan satu file saja untuk masing-masing satu judul e-book. File itu tak akan hilang jika ada seorang pembaca membelinya. Sebab pengecer maupun pembaca yang membelinya, pada dasarnya, hanyalah menyalin file tersebut.

    Itu artinya menerbitkan e-book jauh lebih murah ketimbang menerbitkan buku cetak.  Wajar jika penulis tergoda untuk melakukan self publishing dalam format e-book: biaya terjangkau dan potensi royalti lebih besar. Belakangan juga beredar kabar beberapa penulis di luar negeri meraup banyak uang dari self publishing bukunya dalam format e-book.

    Kalau begitu, apakah penerbit masa kini masih dibutuhkan oleh penulis? Apakah self publishing akan membunuh penerbit di era digital?

    Self publishing tak akan membunuh penerbit. Alasannya yang paling mudah adalah tidak semua penulis punya waktu dan keahlian dalam menerbitkan buku. Sepeti kita tahu, menjadi penerbit buku bukanlah melulu soal menggagas dan menulis karangan, menyusun tataletak buku, dan lalu menawarkannya kepada pembaca.  Bukan cuma itu.

    Menjadi penerbit buku adalah menghubungkan penulis dengan pembaca. Penerbit bertugas menyerap dan menganalisa kebutuhan pembaca dan mendorong penulis untuk menyediakan solusi atas kebutuhan itu. Penerbit juga bertugas untuk memastikan bahwa buku dan penulisnya dikenal oleh pembaca yang disasar. Penerbit harus juga memastikan bahwa ada cara yang tepat dan tempat untuk menjual buku yang gampang diakses oleh calon pembeli. Dan, penerbit harus memastikan pembayaran royalti bagi penulis dihitung secara jujur. Selama tugas-tugas itu bisa dilakukan oleh penerbit secara optimal dan efektif, maka selama itu juga penerbit tak akan pernah terbunuh oleh digital self publishing.

    Bagi penerbit buku, mati kutu di era digital adalah pilihan. Yang mau mati, silakan. Yang mau terus berjaya, ya sumangga.

     

    (Pertamakali diterbitkan di yayan.com. kemudian diterbitkan di majalah “Warta Buku” Edisi Januari Maret 2013 halaman 23-26)

  • Salesman Nekad

    Salesman Nekad

    Pernahkah rumah Anda didatangi oleh seorang salesman yang super nekad? Saya mengalaminya beberapa kali. Dulu. Sekarang sudah jarang ada salesman yang ‘bertamu’ ke rumah.

    Pernah, suatu ketika, saya melihat serombongan salesman melintas di depan rumah. Kalau sudah begitu, saya pasti mencoba untuk menyiapkan kalimat sopan untuk menolak tawaran mereka. Biasanya mereka tidak terlalu memaksa jika kita ‘sopani’.

    Dan benar dugaan saya. Tak berapa lama seorang lelaki muda mengetuk pagar. Kalimat sopan sudah saya siapkan dalam hati. Saya menduga, lelaki ini akan mengucapkan, “Selamat sore, pak”. Tapi, bukan itu yang saya dapat.

    Begitu dia melihat muka saya, dari kejauhan si lelaki langsung saja nyerocos dengan suara lantang seperti sedang menegur orang, “Pak! Pak! Tadi ada teman saya ke sini, nggak?”

    Sembari agak terperanjat spontan saya jawab, “Nggak tuh. Ada apa?”

    “Ini pak, saya mau menawarkan .. bla bla bla …,” tetap dengan suara lantang sementara saya belum sampai di depannya.

    Semprul! Entah dimana dulu dia bersekolah jadi salesman: nekad dan tidak beradab.

    Karena jengkel, saya lupakan kalimat sopan yang sudah saya siapkan tadi. Dan hanya ada satu mantra untuk orang macam ini: TIDAK dan TIDAK. Saya bilang dengan perasaan jengkel, “Nggak, mas!”

    Belum sempat saya kembali masuk rumah, si salesman tetap nekad berteriak-teriak dengan kesan menggoda, “Bener nih pak? Nggak nyesel?”

    Astaga!!! Orang macam ini tidak bisa diselesaikan dengan kata-kata. Setahu saya, satu-satunya teknologi yang cukup ampuh untuk melayani orang yang tidak beradab macam ini adalah telunjuk. Dua komputer di rumah saya tidak akan mampu mengalahkan kehandalan teknologi telunjuk untuk menghadapi problem macam ini.

    Telunjuk? Ya, telunjuk. Caranya? Angkat telunjuk kanan ke atas, dan arahkan ke wajah si lelaki itu. Ucapkan mantra lain dengan suara keras dan berat, “APA MAKSUD KAMU?”

    Dan, benar, teknologi telunjuk cukup ampuh. Si salesman ngeloyor pergi dari depan pagar rumah. Mukanya tertunduk. Dia juga kelihatan jengkel. Masa bodoh!

    Ada tipe salesman lain. Tutur bahasanya sopan. Raut wajahnya penuh senyum. Kelihatannya menyenangkan. Kelihatannya.

    “Selamat sore, pak,” kata si salesman tersenyum ramah ketika ia tahu saya datang menyongsong. Belum sempat saya jawab, ia tetap nyerocos memperkenalkan diri, sambil tangannya membuka slot pintu pagar mencoba masuk ke pekarangan rumah. Eit!!!!

    Spontan, teknologi telunjuk lagi-lagi harus dipakai. “SIAPA YANG MENGIJINKAN KAMU MASUK?!,” bentak saya. Nyalinya kelihatan menciut. Setelah berbasa-basi sebentar, dia akhirnya ngeloyor pergi juga.

    Saking sering berhadapan dengan salesman yang terlalu percaya diri macam itu, beberapa bulan lalu pernah terbetik sebuah gagasan dahsyat di kepala saya.

    Saya bilang ke istri saya, “Bagaimana kalau kita memerdekakan diri?”

    “Maksudnya?”

    “Ya memerdekakan diri, menjadi negara otonom.”

    “Wilayahnya?”

    “Wilayahnya ya seluas rumah kita saja.”

    “Ngawur!,” seloroh sang istri.

    “Kalau merdeka kan enak. Bisa melarang orang supaya nggak sembarangan nyelonong masuk pekarangan. Nggak terganggu salesman

    “Ngawur!”

    “Orang harus memperlihatkan passpornya kalau bertandang ke rumah kita. Orang tidak bisa sembarangan malam-malam pacaran cekikian sambil duduk-duduk di rumput depan rumah kita.”

    “Ngawur! Lha kalau tetangga kita yang berkunjung ke rumah bagaimana?”

    “Ya harus menunjukkan pasppor dan visa-nya.”

    “Ngawur! Lha kalau kita yang berkunjung ke rumah mereka bagaimana?”

    “Selama mereka belum memerdekakan diri, kan bebas-bebas saja. Salahnya sendiri tidak memerdekakan diri”

    “Ngawur!”

    “Mumpung lagi musim otonomi lho!”

    Tapi segelas kopi yang disodorkan sang istri sore itu melarutkan gagasan dahsyat tadi. Entah kemana lunturnya gagasan itu.

     

    (Tulisan ini dipublikasikan pertamakali di mailing list Vipamas pada 16 Desember 2003)

  • Dari Cai Lun Ke Amazon.com

    Dari Cai Lun Ke Amazon.com

    Pada masa awalnya, e-book merampas pengalaman lama kita dengan buku cetak. E-book tidak memberikan rasa intim karena kita tidak leluasa untuk membacanya.

    (more…)

  • Anak, Ayah, Dan Musiknya

    Anak, Ayah, Dan Musiknya

    Kenapa Tom tidak menemukan kesenangan di lagu-lagu Leo Kristi? Padahal, selagi dia masih dalam kandungan, saya sering menempelkan tape kecil yang memutar lagu Leo ke perut ibunya. Selama sebelas bulan pertama kelahirannya, lagu Leo hampir selalu diputar selagi dia diemandikan.

    (more…)

  • Pilih Online atau Yang Berlantai?

    Pilih Online atau Yang Berlantai?

    Pengguna Internet makin hari makin kritis. Karakter pasar macam itu jelas tidak cocok dengan toko buku online yang melulu menyajikan katalog.Toko buku online macam ini akan segera lewat masanya.

    (more…)

  • Uang Di Laci

    Uang Di Laci

    “Aku selalu membayar zakat. Kamu pasti akan jadi anak pintar, ” Bapak meyakinkan saya. Saya manggut-manggut. Saya masih terlalu bocah untuk bisa memahami cara kerja zakat dalam mencerdaskan seorang anak yang bodoh. “Zakat mebersihkan harta kita,” katanya.

    (more…)

  • Pak Koes, Terimakasih. Kami Sudah Tumbuh

    Pak Koes, Terimakasih. Kami Sudah Tumbuh

    “Kamu dicari Pak Koes,” kata seorang teman. Itu terjadi tahun 1987. Teman saya adalah salah seorang yang ikut dalam pertemuan antara pengelola Majalah Mahasiswa UGM Balairung dengan Koesnadi Hardjasoemantri, Rektor UGM waktu itu.

    Saya cengengesan. Tidak percaya dengan omongannya karena beberapa alasan. Pertama, karena teman saya itu juga bicara dengan muka cengengesan. Dia pasti bercanda. Kedua, saya belum dekat dengan rektor. Belum lama saya menjadi reporter di majalah mahasiswa itu. Lagi pula  saat itu saya belum sering berurusan dengan rektorat.

    Cengengesan saya tidak bertahan lama. Teman lain, juga pengelola Majalah Balairung, ikut nimbrung. Dia mengiyakan omongan teman yang tadi. Dahi saya berkerut.

    “Kenapa?” Tanya saya.

    Pak Koes, menurut teman saya itu, menanggapi pemberitaan yang diturunkan dalam Balairung edisi kala itu. Dia berpesan, pemberitaan majalah mahasiswa harus menggunakan bahasa yang baik.

    “Jangan seperti berita yang bilang saya sewot. Siapa yang menulis berita itu?” tanya Pak Koes seperti ditirukan oleh teman saya tadi.

    “Yayan, Pak”

    “Mana Yayan?”

    Konon, teman-teman cengar-cengir saja karena saya memang tidak ikut dalam pertemuan itu.

    “Mosok saya dibilang sewot. Saya tidak sewot. Saya hanya meminta kalian menggunakan cara yang baik dalam menyampaikan pendapat,” konon begitu pak Koes menjelaskan.

    Ya, saya memang menulis berita tentang Menppora Akbar Tanjung yang waktu itu berkunjung ke UGM. Di Gelanggang Mahasiswa UGM digelar acara untuk mempertemukan Akbar dengan para mahasiswa. Saya lupa persisnya kejadian itu, tapi malam itu Akbar sempat disoraki dan dicemooh oleh para mahasiswa yang hadir. Pak Koes kelihatan gusar dengan kelakuan para mahasiswa yang dianggapnya tidak sopan. Dia mengambil alih mikropon dan -dengan suara tegas- meminta mahasiswa untuk bersikap sopan. Ya, saya memang mememilih kata “sewot” dalam berita itu untuk menggambarkan reaksi Pak Koes.

    Terus terang, kaget juga mendengar kabar itu dari teman-teman. Bukan karena Pak Koes tidak suka kata “sewot”. Saya kaget karena baru tersadar bahwa rektor kami yang satu ini sungguh memperhatikan mahasiswanya. Dia menyempatkan diri membaca majalah yang diterbitkan oleh para mahasiswa. Saya tidak yakin bahwa rektor-rektor yang lain di era itu punya perhatian kepada para mahasiswanya.

    Saya yakin, Pak Koes tidak marah dalam pertemuan dengan pengelola Balairung saat itu. Dia memang sering bicara blak-blakan dengan para mahasiswanya. Dia dikenal terbuka dan hangat. Bukan pemarah.

    Diwarnai dengan logat sundanya, sesekali memang terdengar suara Pak Koes agak keras. Seperti sore itu, ketika saya diseret Marjono -teman saya yang juga suaranya sangat keras- untuk bertandang ke rumah dinas rektor. Marjono meyakinkan saya agar bertemu dengan Pak Koes untuk  menyampaikan beberapa gagasan yang sempat kami rembug malam sebelumnya.

    “Ngawur. Kalian ini siapa? Yang realistis saja,” suara Pak Koes agak meninggi sambil kemudian disusul dengan suara tawanya yang khas. Padahal pada detik-detik pertama obrolan, suara Pak Koes sangat rileks.

    Kami berdua -lagi-lagi- cengengesan. Ya, baru saja Marjono menyampaikan gagasan yang kami obrolkan semalaman: mengundang Gorbachev -Presiden Uni Soviet waktu itu- ke UGM. Maklum saja, waktu itu perestroika-nya Gorbachev masih hangat.

    Pak Koes selalu mau mendengar omongan kami -para mahasiswanya. Bahkan gagasan yang tidak realistis sekalipun -seperti mengundang Gorbachev tadi- akan dia dengarkan dulu untuk kemudian dia tanggapi. Dia bahkan selalu siap membuka pintu bagi para mahasiswanya hampir setiap saat. Sama sekali dia tidak tergolong birokratis.

    Pernah suatu siang saya cukup panik karena pada sore hari kami -para pengelola majalah Pijar Fakultas Filsafat UGM- harus berangkat ke Kaliurang untuk menyelenggarakan pelathan jurnalistik internal. Celakanya, sampai siang, kami tidak berhasil mengumpulkan uang untuk melunasi biaya sewa rumah yang dijadikan tempat pelatihan. Dana yang diterima dari Bidang Kemahasiswaan Fakultas Filsafat jelas tidak cukup untuk menyelenggarakan acara itu. Donatur pun nyaris tak ada.

    Andalan terakhir: mengetuk pintu rektorat. Meskipun tanpa perjanjian sebelumnya dan serba mendadak, Pak Koes mau bertemu dengan saya dan teman-teman.

    Sebentar saja saya menyebut latar belakang prolem yang kami hadapi. “Kami butuh tambahan dana, pak,” saya lagsung tembak.

    “Tidak punya dana kok bikin acara?”

    “Tadinya kami pikir akan mendapat sumbangan dari alumni,” saya berkilah.

    “Alumni? Apa alumni filsafat punya dana?” Pak Koes tertawa kecil.

    Muka saya mungkin berubah agak merah. Dia benar. Kami terlalu berlebihan jika berharap mendapatkan donasi yang cukup dari alumni Fakultas Filsafat waktu itu. Dengan dibumbui marah seorang bapak kepada anak-anaknya yang grasa-grusu bikin acara, toh tidak butuh waktu lama bagi Pak Koes untuk meluluskan permintaan kami.

    “Sudah ijin kepolisian?” Pertanyaan itu tiba-tiba muncul menjelang kami pamitan.

    “Belum, Pak”

    “Waduh! Kalian ini bagaimana? Kalau kegiatan di dalam kampus, saya bisa jamin. Tapi kalau di luar kampus seperti ini, kalian harus ijin polisi.” Pak Koes urung berdiri.

    Kami diam.

    “Kalau ada apa-apa, telepon saya! Ke kantor atau ke rumah.”

    “Baik, pak”

    “Punya kan nomor telepon saya?”

    Teman-teman memandangi saya. Saya mengangguk. Saya memamg menyimpan nomor-nomor penting. Nomor telepon Pak Koes adalah salah satunya.

    Mengenang Pak Koes adalah mengenang semangat keterbukaan dan rasa percaya diri. Mereka yang pernah kuliah di UGM pada era kepemimpinannya akan merasakan kerja keras Pak Koes dalam menumbuhkan rasa percaya diri mahasiswa sebagai intelektual muda.

    Pada minggu-minggu pertamanya sebagai rektor, di setiap kesempatan bertemu dengan para mahasiswa, Pak Koes berulang-ulang menyindir kegiatan yang melibatkan mahasiswa hanya sebagai panitia penyelenggara saja. Ya, di hampir setiap kegiatan mahasiswa, para mahasiswa hanya akan mengambil porsi sebagai panitia, pembawa cara, penerima tamu, atau seksi konsumsi saja. Seingat saya, memang begitulah kondisinya sebelum Pak Koes menjadi rektor.

    Kondisi mahasiswa berubah total sejak dia mempmpin UGM. Ada semacam policy (saya lupa, apakah ini tertulis atau tidak) yang mewajibkan setiap acara seminar atau diskusi yang diselenggarakan oleh mahasiswa harus menyertakan mahasiswa sebagai pembicara. “Kalian adalah intelektual muda,” Pak Koes selalu mengingatkan kami begitu. Inilah masa permulaan kebangkitan kepercayaan diri di kalangan mahasiswa. Mahasiswa mana yang tidak bangga duduk bersanding dengan dosen, para ahli dan pakar di sebuah seminar atau diskusi di era itu?

    Policy ini membuat kami -para mahasswa- melahap buku banyak-banyak; menulis makalah secermat mungkin; mengasah argumentasi dengan diskusi-diskusi kecil di berbagai tempat; bekerja keras untuk menjernihkan retorika kami. Kami harus benar-benar siap sepanggung dengan para ahli!

    Sebagai orang yang pernah menjadi aktivis pers mahasiswa, Pak Koes tampaknya tahu betul bahwa pers mahasiswa bisa menjadi tempat yang baik bagi tumbuhnya daya kritis dan intelektuaitas anak muda. Silakan dicatat, dalam era kepemimpinan Pak Koes-lah pers mahasiswa berkembang subur, independen, dan hidup penuh percaya diri.

    Jangan salah, Pak Koes bukan cuma memberikan dukungan kepada aktivis pers mahasiswa saja. Dia memberikan dukungan yang sama kepada unit-unit kegiatan mahasiswa lainnya. Para penghuni Gelanggang Mahasiswa UGM akan menganggukan kepala bersepakat, “Pak Koes tidak pernah pilih kasih”.

    Seseorang, yang nomornya tidak tercatat di handpone saya, malam ini mengirimkan pesan singkat, “Sembari menunggu kabar tentang beliau, mari kita berdoa untuk Bapak Koesnadi Hardjasoemantri” Pesan itu bertanda waktu 07.03.07 21:23. Tadi pagi pesawat Garuda rute Jakarta – Yoga terbakar. Dan Pak Koes adalah salah satu penumpangnya.

    Beberapa jam kemudian, bertanda waktu 08.03.07 00:35, sebuah pesan singkat kembali masuk, “Jam 22:30 Kel. Prof. Koesnadi Hardjasoemantri mengidentifikasi jenasah. Secara resmi keluarga yakin, salah satu jenasah adalah jenasah Pak Koes”

    Siapapun pengirim pesan itu, dia pastilah salah satu dari kami -anak-anak yang dibesarkan di lingkungan kampus yang hangat, egaliter, kreatif, independen dan penuh percaya diri: kampus Koesnadi Hardjasoemantri.

    Pak Koes, selamat jalan.

    Pak Koes, terimakasih. Kami sudah tumbuh.