Category: Catatan

Tulisan tentang manusia, kehidupan, teknologi, media, dan hal-hal yang saya pikirkan.

  • Percakapan Kepalang Tanggung di Gerbong Kereta

    Percakapan Kepalang Tanggung di Gerbong Kereta

    Saya -dan mungkin siapapun- tak bisa mengelak dari suara dan obrolan penumpang lain saat berdesakan di kereta. Terkecuali jika menyumpal kuping dengan headphone.

    Sudah pasti derak roda kereta, dengusan blower pendingin gerbong, rengekan TV iklan, dan gerendengan penumpang yang berdiri agak jauh membuat kita jarang bisa menangkap dengan jelas suara dan obrolan itu.

    Kadang kuping saya hanya menangkap satu kata saja, atau satu kalimat saja. Betul sesekali percakapan yang agak panjang bisa lalu lalang juga di gendang telinga saya.

    Tapi tentu saya tidak tahu persis konteks suara yang berseliweran itu.

    “Ini sudah malam. Saya sudah di kereta. Kalau saya tidak serius, saya gak mau angkat telepon Ibu. Sekarang Ibu maunya apa?” Tanya lelaki berkulit legam yang menempelkan handphone ramping di telinganya.

    Kereta belum berangkat, dan penumpang tidak terlalu berjejal di gerbong malam itu. Suaranya terdengar tegas dan jelas.

    “Jadi, duitnya ada berapa?” Itu pertanyaan seorang ibu yang memangku anak perempuannya yang tidur terkulai di pelukannya, pada malam dan gerbong yang berbeda.

    “Kan lu tahu sendiri. Tadi dapet 50 rebu. Dimintain juga tadi,” jawab lelaki yang berdiri berpegangan pada tiang bagasi gerbong. Saya yakin, dia suami perempuan itu.

    “Iya. Jadi tinggal berapa?” Suara si ibu mendesak.

    Meski bersuara, ia tetep menutup mulutnya yang bergigi agak maju ke depan itu dengan selendang lusuh.

    “Dua puluh rebu.”

    Si perempuan terdiam.

    “Cukup dah buat malam ini mah,” suara lelaki itu seperti mencoba menentramkan sang istri yang matanya terlihat gundah.

    Ia menggaruk betis dengan ujung kaki lainnya tanpa melepas sandal jepit berdebu yang ia pakai, sebelum membetulkan letak topinya yang tak kalah kotor dari kaos lusuhnya.

    Tak ada percakapan lagi diantara mereka sampai saya turun di stasiun tujuan.

    “Udahlah. Itu biasa aja,” kata anak muda berbaju bersih, bersisir rapi di gerbong kereta pagi pada kesempatan lain lagi

    “Nggak bisa, bro. Itu nggak bisa diterima. Anaknya sampe nangis ketakutan,” kata anak muda lain berkaos polo.

    “Besok-besok aku nggak mau ikutan lagi. Nyesel,” sambungnya setelah beberapa saat tak ada percakapan diantara mereka.

    “Sekarang,” lanjut si kaos polo tetap dengan suara pelan, “hampir setiap habis sholat, aku inget terus pertanyaan terakhir ibu itu.”

    Keduanya terdiam sampai di tempat tujuan.

    Penumpang berhamburan di stasiun akhir. Elevator terengah-engah mengerek mereka yang akan menyebrang ke peron lain.

    Tak ada percakapan kecùali teriakan, “Yang kanan jalan! Yang kanan jalan!”

  • Yayan

    Yayan

    Dalam beberapa urusan, istri saya memperkenalkan dirinya sebagai Bu Yayan. Banyak orang mengira dia memang bernama Yayan.

    Ketika memesan ojek motor online, satu dua kali saya mendapat balasan dari pengemudi begini, “OTW. Mohon ditunggu, Bu.”

    Biasanya saya segera merespons, “Saya bukan ‘Bu’. Saya itu ‘Pak’.”

    Bagi sebagian orang, hidup itu bergerak lamban. Bagi sebagian lain, hidup dijalani tergesa-gesa. Si pengemudi terlanjur menutup chat di aplikasi pemesanan ojek.

    Itu sebabnya, di tempat penjemputan, dia tetap percaya diri berteriak-teriak mencari saya, “Bu Yayan! Bu Yayan!”

    Ketika saya sudah mapan duduk di jok bagian belakang, si pengemudi meminta maaf. Saya menepuk pundaknya dua kali. Motor melaju.

    Sesampai di tempat tujuan, si pengemudi kembali meminta maaf. Saya menepuk pundaknya satu kali. Motor melaju.

  • Payung dan Jas Hujan

    Payung dan Jas Hujan

    Di tengah cuaca yang tak menentu macam begini, saya selalu membawa payung kecil dan jas hujan tipis setiap hari kerja. Agak memenuhi tas salempang kecil saya, memang; tapi itu sepadan dengan keuntungannya.

    Tadi malam, berkat payung kecil itu, gerimis tidak menghalangi saya untuk berjalan kaki dari kantor ke stasiun.

    Hujan yang belum berhenti di stasiun tujuan juga tidak mencegah saya untuk mencari tumpangan roda dua. Saya tinggal memakai jas hujan dan memesan tumpangan secara online.

    “Saya sudah di pangkalan. Saya memakai jas hujan warna biru,” tulis saya lewat chat ke si pengemudi.

    Barang 5 atau 6 menit kemudian, pemuda yang rambutnya basah berjalan ke arah saya sambil menggenggam teleponnnya.

    Dia melihat saya dan bertanya dengan suara lantang, “Pak Ardian?”

    Saya menggeleng.

    Masih dengan suara keras, dia berpaling ke arah lain, “Pak Ardian!”

    Seseorang yang sudah terbungkus jas hujan, persis di sebelah lelaki yang berteriak-tariak itu, mengacungkan tangan.

    “Pak Ardian?”

    “Iya.”

    Pengemudi itu mengernyitkan dahinya. Ia melihat ke arah teleponnya sebentar, sebelum berkata dengan suara keras, “Di sini ditulisnya pake jas hujan biru.”

    “Bener kan? Saya pake jas hujan biru,” balas penumpangnya tegas sambil menunjuk jas hujannya yang berwarna hijau.

    Tumpangan, yang saya tunggu-tunggu, baru datang 2 menit kemudian. Lama sekali rasanya.

  • Menabung

    Menabung

    “Aku mau nabung 100 juta ah,” kata si lelaki.

    “Buat apa?” Tanya si perempuan

    Karena tak mendengar jawaban dari si lelaki yang tampaknya tak punya alasan, si perempuan berkata, ” Aku mah nabungnya sepuluh dua ribu aja.”

    Si lelaki mengalihkan topik pembicaraan dengan permen coklat berbungkus kertas hijau. Begitu juga adiknya, si perempuan itu.

    Permen menyita hampir seluruh topik pembicaraan kedua bocah itu terkecuali gedung-gedung tinggi yang bisa jadi bahan omongan baru: mana yang lebih tinggi?

  • Anak Muda dan Remaja di Kereta

    Anak Muda dan Remaja di Kereta

    Wajar kalau anak muda kurus itu merasa kasihan kepada perempuan yang baru saja memasuki gerbong kami. Perempuan bertubuh tambun itu menjinjing dua tentengan di tangan kanan kirinya.

    Seberapa berat beban yang dibawa perempuan berumur 60 tahunan itu? Dia bergantian condong ke kiri dan ke kanan setiap melangkah. Bungkusan di tangannya selalu menarik bahunya.

    Dia, perempuan itu, sempat menengok bangku prioritas yang tersedia di gerbong. Penuh. Dia langsung menuju ke ujung gerbong tempat kami -saya dan anak muda- itu menyenderkan punggung ke dinding gerbong.

    “Ibu duduk saja di sana,” kata si anak muda menunjuk bangku prioritas.

    Si Ibu tersenyum. Dia tahu -saya juga tahu, penumpang di gerbong itu pun tahu, bangku itu sarat penumpang.

    “Suruh saja anak itu berdiri,” kali ini telunjuk anak muda itu mengarah ke lelaki remaja yang duduk santai di bangku prioritas.

    Seorang petugas pengawalan kereta mendatangi si remaja dan memintanya memberikan tempat duduk itu kepada si Ibu. Tanpa merasa kecewa, si remaja berdiri cengengesan dan bergabung dengan teman-temannya di dekat pintu. Si Ibu duduk dan berterimakasih.

    “Susah, Pak,” kata si anak muda kepada saya, “anak itu pura-pura nggak tahu. Bangku itu kan buat orangtua.”

    Saya manggut-manggut saja.

    “Di situ kan ada tandanya. Jelas banget. Bangku itu khusus buat orangtua, ibu hamil, atau yang bawa bayi. Pake pura-pura nggak lihat,” katanya sambil mengambil botol minuman dari ranselnya.

    Berkali-kali ia meneguk minumannya seperti ingin meredakan kejengkelannya.

    Kali ini saya tidak manggut-manggut.

    Tak sampai dua meter dari tempat si anak muda, tanda larangan makan dan minum di kereta jelas terlihat.

    Kereta terasa lamban berjalan.

  • Mengapa Saya Kuliah Di Fakultas Filsafat UGM?

    Mengapa Saya Kuliah Di Fakultas Filsafat UGM?

    Nilai-nilai mata pelajaran IPA saya buruk ketika SMA. Saya melupakan keinginan untuk menjadi mahasiswa di jurusan eksakta.

    Lebih baik, pikir saya waktu itu, menekuni urusan yang saya minati sejak SMP: menulis. Sayangnya, saya tidak tahu sekolah yang tepat untuk itu.

    Dengan ketidaktahuan itu, saya memilih Publisistik UNPAD sebagai pilihan pertama dalam SIPENMARU. Saya lupa, publisistik itu fakultas ataukah jurusan di UNPAD waktu itu.

    Lalu, pilihan kedua apa yang akan saya ambil? Saya tak punya ide waktu itu.

    Daripada pusing memutuskan sesuatu yang tidak saya tahu, lebih baik saya menyandarkan diri pada hal yang saya tahu: jika tidak di Bandung, saya ingin kuliah di Yogya.

    Jadi, tak perlu pertimbangan yang sulit bagi saya untuk memilih UGM. Masalahnya berikutnya yang harus saya pecahkan: mau ambil fakultas apa?

    Sudah saya katakan tadi. Saya tidak punya ide. Saya telusuri saja daftar fakultas dan jurusan yang tersedia di UGM saat itu.

    Sebetulnya, saya tak tahu banyak hampir semua fakultas dan jurusan yang tersedia. Namun ada satu fakultas yang terlihat gelap bagi saya: Fakultas Filsafat.

    Saya sama sekali tak punya gambar tentang apa yang dipelajari mahasiswa di Fakultas Filsafat. Saya malah nekad menebak-nebak: di Fakultas Filsafat mungkin orang belajar membuat kata-kata mutiara. Kalau tebakan saya benar, fakultas tersebut bisa jadi cocok dengan minat saya untuk menulis. Pikir saya begitu waktu itu.

    Jadi, jelaslah sudah pilihan saya dalam SIPENMARU 1984:Publisistik UNPAD sebagai pilihan pertama, dan Fakultas Filsafat UGM sebagai pilihan kedua.

    Itu juga yang saya katakan kepada teman yang bersama-sama mengantri menyerahkan formulir pendaftaran SIPENMARU.

    “Tidak bisa begitu,” kata teman.

    “Kenapa?”

    “UGM itu di luar rayon kita,” jelasnya.

    Saya tidak begitu paham urusan rayon. “Lalu, harus bagaimana?”

    “Universitas yang di luar rayon kita itu harus jadi pilihan pertama,” dia terlihat ngotot.

    Dalam antrian, jarak saya dan teman itu ke loket penyerahan berkas sudah sangat dekat. Tak mau repot, saya mengambil keputusan cepat di tengah antrian: mengubah pilihan saya. Fakultas Filsafat UGM saya jadikan pilihan pertama, Publisitik UNPAD jadi pilihan kedua.

    Apa ruginya?

    Tanggal 15 Syawal 1404 Hijriyah, nama saya muncul di daftar calon mahasiswa yang lolos SIPENMARU. Saya diterima di Fakultas Filsafat UGM.

    Jadi, kenapa saya kuliah di Fakultas Filsafat UGM?

  • Koneksi Internet di Kereta

    Koneksi Internet di Kereta

    Saya tidak tahu persis apa yang sedang dilakukan anak muda itu dengan smartphonenya dalam perjalanan di kereta yang sesak malam ini. Tapi saya yakin, dia sedang membutuhkan koneksi internet yang baik.
     
     
    Berkali-kali ia menyemburkan nafasnya lewat hidung keras-keras. Berkali-kali ia memukul-mukulkan router genggamnya ke backpack yang ia sandangkan di dadanya.
     
    Tampaknya itu tak mengubah apapun.
     
    Ia kembali memukul-mukulkan router genggamnya. Kali ini ia membenturkannya ke tiang besi penyangga bagasi.
     
    Saya tidak tahu mengapa ia begitu yakin perbaikan koneksi internet berkorelasi dengan benturan router.
     
    Apakah kali ini berhasil? Juga tidak. Itu tampak dari nafas yang ia hembuskan keras-keras lewat mulutnya.
     
    Menyerahkah lelaki berkumis ini? Belum.
     
    Ia sekarang membenturkan router genggam ke jidatnya sendiri. Berkali-kali.
     
    Mulutnya masih mendesah jengkel.
     
    Saya berharap ia tidak punya teori bahwa koneksi  internetnya akan membaik jika ia memukulkan routernya ke kepala penumpang lain di depannya.
     
    Mohon doa dukungan.
  • Yadih – Ica

    Yadih – Ica

    Kutaksir, setuanya, bocah perempuan itu berumur 16 tahun. Malah mungkin dia baru 15 tahun umurnya.

    Sedari menaiki gerbong kereta, tangannya tak pernah lepas menggandeng lengan anak lelaki kurus, yang umurnya mungkin lebih tua barang satu atau dua tahun.

    “Udah, nyender aja dah di situ,” dengan anggukan kepala si anak lelaki menyuruh bocah perempuan itu menaruh punggungnya di sisi pintu yang tertutup.

    Si perempuan bersandar dengan agak malas. Ia malah menaruh jidatnya di pangkal atas lengan si anak lelaki, tanpa melepaskan gandengan tangannya.

    “Udah lapar belum?”

    Tak terdengar jawaban

    “Nanti ayah beliin makan di stasiun deh. Nanti makan bubur, ya.”

    Hampir di setiap perhentian, si anak lelaki selalu mengaku sangat tahu seluk beluk stasiun dan pernah hidup di sekitarnya. Si bocah perempuan tidak menggubrisnya. Ia lebih sibuk memainkan tangan di rambutnya yang disemir kecoklatan, atau dengan teleponnya yang langsing.

    Si anak lelaki tidak menyerah. Ia terus saja mengajak pasangannya bicara. Aku tak mendengar bocah perempuan itu meresponnya.

    “Seneng nggak ayah dapetin itu?” Si anak lelaki menyentuh kaos oblong hitam yang dipakai bocah perempuan.

    “Seneng nggak? Nggak semua orang punya,” suara si anak lelaki tegas.

    Tak kudengar suara bocah perempuan itu. Mungkin dia tidak menjawabnya. Mungkin juga suaranya terlalu lirih hingga dimakan suara gesekan roda kereta.

    “Seneng nggak?” Suara anak lelaki itu makin keras.

    “Seneng banget. Seneng,” akhirnya si bocah perempuan bersuara lebih keras dan ketus.

    Untuk beberapa menit pasangan berkaos hitam ini terdiam. 

    Anak lelaki itu membiarkan si bocah perempuan membenamkan muka ke dadanya. Ia hanya membalasnya dengan pelukan satu tangan, sebab tangan lain bergelantung menyangga badannya.

    Lengan si anak lelaki nyaris dipenuhi tulisan besar. Tato? Bukan. Hanya goresan spidol hitam berbunyi: YADIH – ICA.

    “Nanti kalau sampai stasiun, kita makan bubur,” anak lelaki itu beberapa kali mengulang kalimat yang sama.

    Sewaktu gerbong kereta semakin longgar, karena semakin banyak penumpang turun, anak lelaki itu bisa menyandarkan badannya ke bagian pintu yang selalu tertutup selama perjalanan. Sepasang kekasih itu berpelukan.

    Rambut keduanya lengket. Kulit mereka hitam kusam. Muka mereka lelah. Mereka berpelukan. Seperti sepasang tikus yang terpojok oleh kepungan.

    Di peron yang tak beratap, air tergenang di satu dua titik. Kakiku susah menghindarinya. Hujan baru saja reda. 

    Kereta melanjutkan perjalanan. Sepasang muda itu berada di dalamnya.

    Sebelum menyeberangi rel, aku mematikan pemutar musik, memutus suara The Hollies:

    Too young to be married
    Too young to be free
    Too young to be married
    But what could they do, they were going to have a baby

  • Tunggu Aku di …

    Tunggu Aku di …

    Di layar TV itu bekas pemain sinetron sedang menjajakan kerudung dagangannya ketika lelaki pendek di sebelah saya berteriak keras, “Aku memang tak bisa …”

    Tak bisa tidak, saya terkejut dan menoleh. Dia, yang bertopi gelap, menutupkan matanya. Kupingnya disumpal headphone.

    Oh dia sedang bersenandung rupanya.

    Dia seperti berhenti bergumam. Nada suaranya lebih normal sewaktu dia berkata, “Lagi tekan Palmerah. Enteni aku ngisor wit ringin wae, yo.”

  • Melewati Tanah Kusir

    Melewati Tanah Kusir

    Ketika kereta melewati pemakaman Tanah Kusir, bocah perempuan berbaju motif bunga besar dengan warna dominan kesumba itu terkagum-kagum.

    “Banyak banget kuburannya, Bu”

    “Ya. Banyak orang sudah mati.”

    “Kita juga nanti mati, Bu?”

    “Nanti semua orang mati pas kiamat.”

    “Ibu nanti mati pas kiamat?”

    “Nggak. Ibu mati sebelon kiamat.”

    Kereta berjalan lebih lambat menjelang masuk Stasiun Kebayoran.