Blog

  • Payung dan Jas Hujan

    Payung dan Jas Hujan

    Di tengah cuaca yang tak menentu macam begini, saya selalu membawa payung kecil dan jas hujan tipis setiap hari kerja. Agak memenuhi tas salempang kecil saya, memang; tapi itu sepadan dengan keuntungannya.

    Tadi malam, berkat payung kecil itu, gerimis tidak menghalangi saya untuk berjalan kaki dari kantor ke stasiun.

    Hujan yang belum berhenti di stasiun tujuan juga tidak mencegah saya untuk mencari tumpangan roda dua. Saya tinggal memakai jas hujan dan memesan tumpangan secara online.

    “Saya sudah di pangkalan. Saya memakai jas hujan warna biru,” tulis saya lewat chat ke si pengemudi.

    Barang 5 atau 6 menit kemudian, pemuda yang rambutnya basah berjalan ke arah saya sambil menggenggam teleponnnya.

    Dia melihat saya dan bertanya dengan suara lantang, “Pak Ardian?”

    Saya menggeleng.

    Masih dengan suara keras, dia berpaling ke arah lain, “Pak Ardian!”

    Seseorang yang sudah terbungkus jas hujan, persis di sebelah lelaki yang berteriak-tariak itu, mengacungkan tangan.

    “Pak Ardian?”

    “Iya.”

    Pengemudi itu mengernyitkan dahinya. Ia melihat ke arah teleponnya sebentar, sebelum berkata dengan suara keras, “Di sini ditulisnya pake jas hujan biru.”

    “Bener kan? Saya pake jas hujan biru,” balas penumpangnya tegas sambil menunjuk jas hujannya yang berwarna hijau.

    Tumpangan, yang saya tunggu-tunggu, baru datang 2 menit kemudian. Lama sekali rasanya.

  • Tambah Kualitas dan Kinerja, AMC Ikuti Bimtek

    Tambah Kualitas dan Kinerja, AMC Ikuti Bimtek

    WARTA ANDALAS, AGAM – Untuk menambah kualitas dan kinerja personel, Agam Media Center (AMC) Kabupaten Agam, mengutus Andre Wijaya untuk mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) tentang tata kelola media center dan jurnalistik online di Lotos Ballroom B Lantai II Hotel Four Points by Sheraton Makasar, selama tiga hari mulai Rabu (27/4) sampai Jumat (29/4).

    Direktur Pengelolaan Media Publik Ditjen IKP Kementerian Kominfo Sunaryo, mengatakan, kegiatan ini untuk memperkuat para petugas media center di daerah sehingga semua hasil berita dan foto bisa berkualitas.

    Saat ini, dari 250 media center yang telah menerima bantuan hanya 70% saja yang aktif untuk mengisi informasi terkini berupa berita dan foto, sedangkan 30 % lainnya kurang aktif malah ada yang tidak melakukan aktifitas pengiriman informasi.

    Sementara tujuan diciptakan portal infopublik untuk mencerdaskan dan meningkatkan pengetahuan semua masyarakat serta bisa dimanfaatkan oleh para pewarta daerah untuk berkonstribusi aktifitas pengiriman beritanya ke redaksi masing-masing.

    Sunaryo berharap dengan Bimtek ini akan lahir sajian berita atau informasi dari daerah yang dikirim ke portal Infopublik.id dan dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat. Kedepan penyaji berita terbaik dari daerah akan di undang dan dilibatkan menghadiri acara-acara nasional.

    Sebelum itu, Sekretaris Direktorat Jendral Informasi Komunikasi Publik (IKP) Kementrian Komonikasi dan Informatika Republik Indonesia, Nurlaili mengatakan, tujuan bimtek ini diadakan memacu kembali para media center yang kurang aktif ini sehingga bisa bangkit kembali aktif dan yang aktif bisa lebih semangat untuk selalu aktif berkonstribusi serta menghasilkan yang lebih bagus lagi.

    “Dari 60 peserta yang mengikuti bimtek ini, 30 peserta baru menerima bantuan pada 2015 dan 30 peserta lagi telah lama mendapat bantuan penguatan media center. Dari 30 peserta yang telah lama mendapat bantuan tersebut hanya 20 peserta yang selalu aktif melakukan kontribusi pengiriman informasi baik berita maupun foto sedangkan 10 orang besertanya kurang aktif,” katanya.

    Sementara narasumber yakni, Sunaryo Direktur Pengelola Media Center yang akan memberikan materi tentang media center daerah, Ahmed Kurnia Pemred Portal Berita Infopublik yang akan berikan tata kelola media center, Eka Yunavilbia yang akan berikan teknik penulisan berita untuk Portal Infopublik, Agus Setia Budiawan Redaksi Foto sekaligus Fotographer portal Infopublik yang akan memberikan foto untuk portal Infopublik, J.Heru Margianto dari Kompas.com yang akan memberikan penyusunan berita media online, Yayan Sopyan dari praktisi media online yang akan memberikan materi tentang membangun citra positif melalui media online dan Choirul Umami dari tim teknis IT portal berita media online yang akan memberikan materi tentang teknis pengiriman berita ke portal Infopublik..(jon)

    Sumber Berita: warta-andalas.com

  • Site Map

     {eks}{/eks}

  • ICT Watch Umumkan 12 Proyek Pengembangan Aplikasi

    ICT Watch Umumkan 12 Proyek Pengembangan Aplikasi

    Ford Foundation, Wikimedia Indonesia dan ICT Watch mengumumkan 12 proyek yang akan mengembangkan aplikasi ponsel dan proyek seluler.

    (lebih…)

  • Bosan Menulis dan Kebosanan Lainnya

    Bosan Menulis dan Kebosanan Lainnya

    Pernah merasa bosan menulis padahal dulunya menulis adalah aktivitas favoritmu? Mungkin bukan bosannya yang jadi masalah—tapi ada hal lain yang lebih dalam yang belum kamu kenali.

    (lebih…)

  • Memimpikan Launching Buku?

    Memimpikan Launching Buku?

    Anda mau menjadi penulis kan?

    Anda sudah menyelesaikan naskah anda. Itu langkah yang bagus dan benar.

    Lalu, anda ingin naskah itu diterbitkan. Itu keinginan yang normal dan benar juga.

    Anda kemudian menawarkan naskah itu ke penerbit yang cocok dengan jenis naskah yang anda tulis dan membidik pasar pembaca yang sesuai pula dengan naskah anda. Itu strategi yang tepat.

    Selanjutnya anda memimpikan acara launching buku besar-besaran dengan liputan media nasional? Nanti dulu! Ini belum tentu harapan yang patut anda patok.

    Saya sering bertemu dengan penulis muda pemula yang, belum-belum, sudah mematok acara launching buku yang heboh sebagai sebuah perayaan.  Seolah-olah, acara launching buku itu menjadi salah satu tujuannya.

    Sebagai penulis, tentu saja anda patut bergembira atas terbitnya naskah anda. Anda boleh merayakannya tapi sebaiknya itu tidak disangkutpautkan dengan acara launching buku.  Acara peluncuran buku anda lebih merupakan salah satu cara promosi saja. Agar efektif, seluruh rencana dan pernak-pernik acara launching buku harus didasarkan atas tujuan promosi; tidak dicampur aduk dengan sentimen-sentimen pribadi anda sebagai penulis.

    Karena hanya merupakan salah satu cara promosi saja, acara launching buku sebetulnya belum tentu cocok untuk segala jenis buku yang diterbitkan. Bukan mustahil promosi buku anda pun tidak cocok dilangsungkan dalam bentuk acara launching buku. Bukan mustahil. Jadi, sebaiknya anda tidak memasukan acara launcing buku ke dalam daftar impian anda; apalagi menjadikannya sebagai tujuan dari proses kreatif anda sebagai penulis. Tidak usah.

    Ketimbang memimpikan launching buku sebagai perayaan sukses anda dalam menyelesaikan satu naskah, anda sebaiknya memusatkan perhatian untuk menghasilkan karya yang bagus, dan menemukan serta menjalin kerjasama dengen penerbit yang cocok: yang bisa membuat naskah anda menjadi buku yang hebat, mempromosikannya dengan tepat, dan melayani  pembaca yang anda sasar dengan baik.

  • Self Publishing Bukan Melulu Menggandakan Naskah

    Self Publishing Bukan Melulu Menggandakan Naskah

    Ada banyak alasan kenapa seorang penulis memutuskan untuk menerbitkan sendiri naskah karyanya. Mungkin dia berniat mendapatkan penghasilan yang lebih besar dari sekadar royalti yang diberikan oleh perusahaan penerbitan buku. Mungkin dia meyakini ada pasar untuk naskah karyanya -yang tidak terendus oleh penerbit lain. Mungkin dia ingin menjajal konsep produk rancangannya di pasar, yang diabaikan oleh penerbit lain. Dan, mungkin masih ada sejumlah alasan lain.

    Apapun alasan seorang penulis untuk menerbitkan sendiri karyanya, dia harus menyadari bahwa menerbitkan sendiri (self publishing) bukanlah melulu soal menggandakan sendiri naskahnya. Anda tidak sedang menerbitkan sendiri buku anda jika yang anda lakukan hanyalah menulis naskah lalu menyerahkannya ke penyedia jasa print on demand yang mengaku sebagai penyedia jasa self publishing -hanya karena dia memberikan layanan membuat sampul dan menata halaman buku, mencetak buku, dan menjajakannya di Internet. Yang anda lakukan itu hanyalah menggandakan naskah.

    Ketika anda memutuskan untuk menerbitkan naskah anda sendiri, maka pada saat itu anda harus segera berpikir dan bertindak sebagai penerbit. Apakah yang menjadi perhatian utama penerbit? Pembaca! Penerbit bekerja untuk memastikan buku yang akan diterbitkannya itu cocok dan tepat untuk pembaca yang memang disasarnya. Isinya, ukurannya, formatnya, tata letaknya, rancangan sampulnya, harganya, dan tempat menjajakannya cocok dan tepat untuk pembaca yang memang diincarnya.

    Itulah sebabnya penerbit tidak pernah begitu saja mencetak naskah yang datang. Editor di penerbit akan memastikan bahwa naskah yang akan diterbitkan sudah pas untuk pembaca. Ia bukan melulu mengurus salah ketik atau ejaan. Editor akan memastikan bahwa isinya selengkap yang dibutuhkan pembaca dan disajikan dengan cara yang pas pula. Ia akan memeriksa sistematika dan akurasi informasi di buku-buku non fiksi. Ia juga akan mencermati karakter, plot dan elemen lain dalam buku-buku fiksi.

    Penerbit akan mengandalkan para perancang grafisnya untuk menyusun tata letak halaman dan sampul buku, serta teknik mencetaknya yang sesuai dengan selera pembaca. Ukuran buku pun dipertimbangkan secermat mungkin dengan mengacu kepada kenyamanan dalam membaca.

    Pembaca juga yang menjadi perhatian penerbit ketika menetapkan harga jual buku. Harga jual tidak melulu mempertimbangkan keuntungan yang ingin ditangguk oleh penerbit. Harga jual yang murah tidak selalu berarti merugi. Harga jual yang murah juga bukan jaminan pembaca akan membelinya.

    Jika tak punya divisi atau bagian distribusi sendiri, penerbit biasanya menunjuk distributor untuk mendistribusikan buku-buku terbitannya. Penerbit akan memilih distriubutor yang mampu menjangkau outlet dan kanal yang tepat untuk sebagian besar pembaca yang disasarnya.

    Soal tempat menjajakan buku ini perlu menjadi perhatian khusus bagi siapapun yang berniat menerbitkan buku sendiri. Perhatikan tempat yang biasanya dikunjungi oleh pembaca yang anda sasar. Jangan sampai anda malah menjajakan buku anda di tempat atau situs web penyedia layanan self publishing. Situs layanan self publishing itu tempat para penulis berkumpul, bukan tempat para pembaca berkerumun mencari bacaan.

    Sebagai penerbit, seorang penulis harus berorientasi kepada pembaca. Ia tidak bisa mengumbar maunya sendiri tanpa mempertimbangkan pembaca yang disasarnya. Self publishing bukanlah jalan keluar bagi penulis yang egois -yang tidak mengijinkan orang lain mengedit naskahnya, yang mengabaikan pembaca ketika menentukan banyak aspek sebuah buku.

  • Bersembunyi Di Timbunan Ide

    Bersembunyi Di Timbunan Ide

    Merasa tak punya ide itu tidak bagus bagi stamina seorang penulis. Perasaan macam itu terkadang membuat si penulis loyo, karena merasa kurang darah. Itu sebabnya seorang penulis sebaiknya memahami dan menguasai betul keterampilan-keterampilan untuk menemukan dan menggali ide tulisan.

    Sebaliknya, merasa punya banyak ide juga bisa membahayakan kerja si penulis. Jika si penulis tak bisa mengelolanya, ide-ide itu hanya akan merongrong proses kerja si penulis. Ide-ide  yang tak terkelola itu akan seperti gerombolan anjing yang menguntit sambil terus menerus menyalak ketika kita sedang olahraga lari pagi. Jika tidak ditempatkan dalam rencana kerja yang jelas, ide-ide itu bahkan hanya akan menjadi alasan bagi seorang penulis untuk tidak pernah menyelesaikan sebuah tulisan.

    Sangat sering saya bertemu penulis -pemula maupun bangkotan- yang tidak menyelesaikan sebuah karya karena dia tergiur oleh ide-ide baru lain. Dia meninggalkan begitu saja draft tulisannya yang mungkin baru setengah jadi -atau bahkan baru sampai 3 paragraf karena tergoda untuk mengembangkan ide tulisan yang lain. Lalu, dia tergoda lagi untuk mengembangkan ide yang lain lagi. Begitu seterusnya sehingga ia tak pernah menyelesaikan satu karya secara utuh.

    Seorang penulis, tentu saja, tidak harus sangat setia kepada rencana awal kerjanya. Ia boleh saja meninggalkan draft yang sudah separuh jalan ia tulis, lalu berpaling untuk mengembangkan dan menyelesaikan ide lain. Itu bisa saja dilakukan untuk alasan-alasan yang lebih jelas. Misal, ide yang baru mungkin lebih mendesak untuk diwujudkan ketimbang ide sebelumhnya. Atau, si penulis bisa lebih cepat menyelesaikan ide barunya ketimbang ide lama yang penuh hambatan yang belum mampu ia atasi.

    Jika anda merasa punya banyak ide untuk ditulis, segeralah anda kelola dan tempatkan dalam rencana kerja yang jelas. Setiap ide itu harus berujung menjadi sebuah karya. Jangan biarkan ide-ide baru menjadi tempat bersembunyi anda ketika anda tidak menyelesaikan sebuah karya.

    Jangan berdalih bahwa proses menulis lebih penting daripada menyelesaikan sebuah tulisan. Kenapa? Sebab menyelesaikan sebuah tulisan adalah bagian dari proses menulis.

  • Sebuah Situs Berita Seketika

    Sebuah Situs Berita Seketika

    Sesungguhnya timeline itu tidak diperkenalkan oleh Twitter tapi, saya yakin, oleh Budiono Darsono. Atau Yayan Sopyan. Atau mereka berdua bersama. Saya lupa persisnya.

    (lebih…)

  • Peperangan 2.0

    Dalam perang propaganda pada era ini, yang harus kita takutkan bukanlah musuh kita. Takutlah kepada mereka yang menjadikan kita sebagai prajurit dan meriamnya tanpa kita sadari.