Rasanya, sebuah system komputer bukanlah sebuah misteri seperti kehidupan orang. Sebuah system komputer adalah ciptaan manusia, sama halnya seperti serangkaian kotak dalam teka-teki silang: kotak-kotak saling terhubung secara sistematis dan sudah pasti apa isinya yang tepat. Kesuksesan membuka lubang-lubang sekuriti juga sama dengan kesuksesan menjawab teka-teki silang: tergantung pada tingkat pengetahuan dan keterampilan untuk menguak teka-teki dari sebuah desain yang tertinggal atau ditinggalkan oleh perancangnya.
(lebih…)
Blog
-
Tak Ada Sistem Yang Aman
-
Profesi Mahal Zaman Global
Internet laksana lokomotif raksasa. Apa pun bisa dihelanya. Di antaranya pendesain situs web, salah satu kunci dari Internet. Tanpa situs web, Internet ibarat buku tanpa isi. Ada tapi tak bermakna.
(lebih…) -
Sim Salabim, Detikcom Untung Besar
MEDIA berita digital melalui internet kayaknya akan semakin populer di masa datang. Contoh suksesnya sudah ada, Detikcom. Media ini mampu menyajikan berita tertulis cuma beberapa menit setelah sebuah peristiwa berlangsung. Ini terbukti ketika Sidang Umum MPR berlangsung. Tidak sampai 10 menit setelah Akbar terpilih sebagai Ketua DPR, beritanya sudah bisa dibaca di Detikcom, dengan bahasa yang ringan dan enak dicerna.
-
Acong, Joko, Sitorus, dan Internet
Solidaritas etnis Tionghoa global pasca kerusuhan Mei 1998 menyebar lewat internet, menciptakan kekhawatiran diaspora dan kebangkitan kesadaran rasial.
-
PERKOSAAN: Dramatisasi Atas Fakta
Belum ada data yang pasti soal pemerkosaan yang terjadi selama dan sesudah kerusuhan 13-15 Mei lalu. Namun dramatisasi atau bahkan manipulasi atas fakta perkosaan telah menyulut kemarahan banyak orang.
(lebih…) -
Dari Foto Perkosaan Ke Cyber-War
Foto kontroversial jadi pusat perhatian publik dan pemantik emosi etnis Tionghoa dunia. Di baliknya, ada pertarungan makna, disinformasi, dan luka sejarah yang belum sembuh.
-
Membakar Koran
Sebelum habis kuteguk secangkir kopi,
kubakar lagi selembar koran pagi ini.
Untuk apa membaca, jika aksara-aksara tak jadi kata-kata.
Untuk apa kata-kata, jika ia tak punya kaki
untuk menapakkan badannya pada bau tanah yang murni.
Untuk apa melihat, jika yang tertera hanya ribuan titik hitam
yang mengaburkan gambar, yang menepiskan kesaksian.Sebelum jalan-jalan kembali macet dan berisik,
kubakar lagi selembar koran pagi ini.
Biarkan saja angin menerbangkan abunya ke langit,
mengantarkan harapan beribu orang kemana saja ia mau
seperti tak pedulinya bahasa yang lumpuh pada nasib nyata
denyut nadi si papa dan sahayaApa yang kau dapatkan dari selembar koran pagi ini?
Hanya pikiran-pikiran
hanya bunyi gemeretak sebuah syaraf di kepala
hanya harapan-harapan
hanya degup kencang dadaMana peristiwa?
Mana kejadian?
Tak dapat kusentuh wajahmu dan mereka
Tak dapat kau raba kulit mukaku pulaSelembar koran hanya mengajariku bercuriga dan mendendam
sebelum usai sebuah malam
hanya meredam jerit perih luka
di kakiku sebelum kutahu cerita tentang sebongkah batu tajam.
Maka kubakar saja selembar koran pagi ini.Bahasa telah kehilangan matanya.
Kabarkan padaku apa isi sebuah pena?
Jakarta, 1994
-
Silhuet Siapa Itu?
Siapa dia, lelaki di ujung cakrawala, ujudnya dalam silhuet senja?
“Aku laskar tua, nak. Tak punya apa-apa di batas ini senja, selain sepasang sepatu lars dan bedil tua juga. Tak ingin apa-apa, selain menjadi raja bagi burung- burung, bagi ikan-ikan, bagi pohonan, bagi monumen dan menara-menara.”
Yang tua menjadi tua, yang muda menjadi tua, karena ia memilih menjadi serigala.
“Bukan. Aku hanya serdadu tua saja. Tak ingin apa-apa, selain menjadi suami bagi semua perempuan, menjadi bapak bagi semua bocah, menjadi mercusuar bagi semua kapal.”
Yang tua menjadi muda, yang muda tetap belia, karena ia mencinta segala-gala; bukan karena ia menguasa segala-gala.
Siapakah aku dan engkau, dalam rentangan zaman? Siapakah aku dan engkau, dalam silau cahaya yang terpantul dari matahari ke kaca gedung bertingkat?
Yogya, 14 Nopember 1990. 01.07 WIB
-
Kredo (1)
akan tetap kucintai dunia ini
karena tak pernah bisa kupahamikarena tak pernah bisa kupahami dunia ini
maka sepanjang hari
aku telanjangi matahari dari fajar sampai senja
agar tulang-tulangku menjadi kuat
maka sepanjang malam
aku nyanyikan “selamat tidur” pada bulan dan bintang
agar aku tetap waspada
meski keindahan menyelimutinyakarena tak pernah kupahami kamu semua
maka kugenggam tanganmu untuk kucintaaku akan terus bercinta
karena aku bakal terus bertanyaYogyakarta, 29 Juli 1990
-
Sajak Bocah Gamang
(buat: EY)
yulia,
yulia, dimana harus kutemukan kamu?
kabut sisa malam halangi pandanganku
hawa dingin telah bekukan keringat kerjaku
dari mana harus kumulai segala kebangkitan, yulia?
reruntuhan ini tak akan pernah menjadi apa pun
di bawah ancaman kekuasaan
yang ingkari pergantianyulia,
yulia,
jangan ambil jarak
seorang lelaki yang dihempaskan oleh amarah kekuasaan
selalu butuhkan kedamaian samadhi sebuah percintaan
yulia,
kemana harus kucari tanganmu untuk kugenggam?
aku gamang melihat antrian pengangguran
yang dicabik-cabik permainan kekuasaan ya, yulia,
selalu kekuasaan menjadi ruh iblis setiap zamanyulia,
mendekatlah aku tak tahan sendirian
melihat senjakala yang angkuh
yang menelantarkan bocah-bocah di klub malam,
di rumah-rumah pelacuran,
di kelas-kelas kosong,
bocah-bocah yang disalibkan di tengah ijazah yang tanpa rasayulia,
apakah ini semua mimpi buruk setiap bocah zaman kita?
dan kita cuma bakal jadi saksi?Yogyakarta, 09 Nopember 1989