Di era AI yang bisa ‘bertanya’, masihkah rasa ingin tahu manusia punya tempat? Esai ini mengajak refleksi tentang curiosity dan kemanusiaan.
Penulis: pobox.yayan@gmail.com
-

Di Tengah Revolusi AI, Mau Jadi Survivor ataukah Adapter?
Bagaimana kita bisa bertahan di tengah dunia yang makin digerakkan oleh AI? Esai ini mengajak Anda membedakan antara sekadar beradaptasi dan benar-benar bertahan, dengan critical thinking dan creative thinking sebagai kunci survival di era algoritma.
-

May Day dan Tuntutan Baru
May Day bukan hanya soal masa lalu. Di tengah revolusi AI dan dunia kerja digital, kita menghadapi bentuk baru eksploitasi: data ditambang, waktu kabur, manusia direduksi jadi metrik. Refleksi ini menggali makna baru perjuangan buruh hari ini.
-

Tata Kelola AI Tanpa Literasi Publik Adalah Jembatan Tanpa Jalan
Indonesia bergerak cepat membangun tata kelola artificial intelligence (AI), bahkan menggandeng Tony Blair Institute. Namun, tanpa membangun literasi publik yang kuat, semua regulasi berisiko hanya menjadi proyek elitis yang meninggalkan mayoritas warga negara di belakang.
-

Tubuh Digital Kita, Tambang Mereka
Manusia bukan lagi sekadar pengguna. Di era AI, tubuh digital kita jadi ladang tambang yang menguntungkan mereka yang menguasai sistem.
-

Menghapus Manusia adalah Obsesi Kapitalis di Era AI?
Obsesi kapitalis menggantikan manusia dengan AI bukan soal efisiensi, tapi dehumanisasi. Apa yang tersisa dari manusia ketika semua pekerjaan diambil alih?
-

AI dan Negara Pengawas ala Fiksi Orwell
Kontrak ICE dan Palantir mengungkap bagaimana AI berubah jadi alat pengawasan massal—mendekatkan kita pada dunia distopia ala Orwell.
-

Kiat Menulis untuk Profesional Sibuk
Penulis: Yayan Sopyan
Ukuran: 21 x 14.8 cm (A5).
Tebal: iv + 195 halaman
Penerbit: Kutahu
Harga Normal: Rp125000


