Kadang menunda bukan berarti berhenti. Dalam proses menulis, satu naskah bisa tertahan bukan karena buntu, melainkan karena pikiran bergerak ke arah lain.
Penulis: pobox.yayan@gmail.com
-

Artificial Intelligence Apa Adanya
AI sering kita bayangkan seperti makhluk hidup. Padahal ia hanya alat. Yang berubah justru cara kita bercerita, dan dari situlah tanggung jawab manusia perlahan ikut menghilang.
-

Siapa yang Sebenarnya Memaknai: Kita ataukah Mesin?
Mesin bisa memahami bahasa, tapi belum tentu makna. Lalu, siapa sebenarnya yang memaknai: manusia ataukah sistem yang sekadar menghitung tanda-tanda?
-

Angka dan Cerita 0,00017%
Statistik bisa menghibur penguasa, tapi menyakiti mereka yang jadi korban. Karena nyawa manusia tak pernah bisa diperas jadi 0,00017 persen.
-

Bahaya Cara Kita Memahami AI
AI sering dianggap sebagai makhluk tunggal yang bisa berpikir dan memilih sendiri. Cara pandang ini menyesatkan dan berbahaya, terutama saat tanggung jawab manusia mulai kabur.
-

Kalau Semua Diambil Mesin, Siapa Lagi yang Mau Menulis?
Kita makin sering bertanya pada mesin dan lupa siapa yang dulu menulis jawaban-jawaban itu. Tapi kalau semua diambil oleh AI, siapa lagi yang akan menulis?
-

Nasib Cerita di Era AI
Di era AI, cerita berubah jadi data—dan data jadi cerita. Tapi di mana letak makna ketika hidup kita dikalkulasi dan diklasifikasi? Saatnya kita merebut kembali ruang untuk cerita yang manusiawi.
-

A Singer Must Die
Sebuah lagu sunyi tentang vonis, dosa, dan suara yang tak lagi dibela. A Singer Must Die bukan sekadar lagu—ia menjadi ruang pengakuan yang tak meminta pengampunan.
-

Kita yang Harus Belajar Membaca, Bukan Mesin yang Harus Berhenti Menulis
AI makin canggih, tapi juga makin sering berhalusinasi. Mungkin masalahnya bukan pada mesinnya, tapi pada kita yang tak lagi bisa membaca dengan kritis dan menyaring yang masuk akal.

