MEDIA berita digital melalui internet kayaknya akan semakin populer di masa datang. Contoh suksesnya sudah ada, Detikcom. Media ini mampu menyajikan berita tertulis cuma beberapa menit setelah sebuah peristiwa berlangsung. Ini terbukti ketika Sidang Umum MPR berlangsung. Tidak sampai 10 menit setelah Akbar terpilih sebagai Ketua DPR, beritanya sudah bisa dibaca di Detikcom, dengan bahasa yang ringan dan enak dicerna.
Author: pobox.yayan@gmail.com
-

Acong, Joko, Sitorus, dan Internet
Solidaritas etnis Tionghoa global pasca kerusuhan Mei 1998 menyebar lewat internet, menciptakan kekhawatiran diaspora dan kebangkitan kesadaran rasial.
-
PERKOSAAN: Dramatisasi Atas Fakta
Belum ada data yang pasti soal pemerkosaan yang terjadi selama dan sesudah kerusuhan 13-15 Mei lalu. Namun dramatisasi atau bahkan manipulasi atas fakta perkosaan telah menyulut kemarahan banyak orang.
(more…) -

Dari Foto Perkosaan Ke Cyber-War
Foto kontroversial jadi pusat perhatian publik dan pemantik emosi etnis Tionghoa dunia. Di baliknya, ada pertarungan makna, disinformasi, dan luka sejarah yang belum sembuh.
-

Betapa Tidak Enaknya Menjadi Remaja
Puncak ketidakenakan remaja adalah ketika remaja dipelakukan sebagai obyek tudingan. Remaja sering dikhawatirkan bakal jadi “beban pembangunan”. Sambil menunjuk tingginya angka kejahatan dan penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh remaja, remaja juga tak jarang dituding sebafai salah satu sumber keresahan. Remaja juga sering mendapat jatah predikat sebagai ‘pemberontak sosial budaya’, dan lain sebagainya.
-

Membakar Koran
Sebelum habis kuteguk secangkir kopi,
kubakar lagi selembar koran pagi ini.
Untuk apa membaca, jika aksara-aksara tak jadi kata-kata.
Untuk apa kata-kata, jika ia tak punya kaki
untuk menapakkan badannya pada bau tanah yang murni.
Untuk apa melihat, jika yang tertera hanya ribuan titik hitam
yang mengaburkan gambar, yang menepiskan kesaksian.Sebelum jalan-jalan kembali macet dan berisik,
kubakar lagi selembar koran pagi ini.
Biarkan saja angin menerbangkan abunya ke langit,
mengantarkan harapan beribu orang kemana saja ia mau
seperti tak pedulinya bahasa yang lumpuh pada nasib nyata
denyut nadi si papa dan sahayaApa yang kau dapatkan dari selembar koran pagi ini?
Hanya pikiran-pikiran
hanya bunyi gemeretak sebuah syaraf di kepala
hanya harapan-harapan
hanya degup kencang dadaMana peristiwa?
Mana kejadian?
Tak dapat kusentuh wajahmu dan mereka
Tak dapat kau raba kulit mukaku pulaSelembar koran hanya mengajariku bercuriga dan mendendam
sebelum usai sebuah malam
hanya meredam jerit perih luka
di kakiku sebelum kutahu cerita tentang sebongkah batu tajam.
Maka kubakar saja selembar koran pagi ini.Bahasa telah kehilangan matanya.
Kabarkan padaku apa isi sebuah pena?
Jakarta, 1994
-

‘Orang Bajau’ Ada di Mana-Mana
Cuma saja, agaknya kita baru sampai pada tingkat kesangsian saja. Itu pun belum menampakkan wajahnya yang jernih. Ini bukan saja karena kenyataan sosial politik masih memperlihatkan model-model yang sentralistis. Tapi bahkan, pada tingkat kesadaran pun, visi-visi non-sentralistis yang muncul pun masih terkesan gagap, terbata-bata dan keruh. Bahkan tak jarang harapan-harapan dan penyelesaian bagi persoalan nyata pun masih merujuk serta menyandarkan diri pada sentralisme yang justru disangsikan.
-

Los Angeles, Orwell, dan ‘Klangenan’ Kita-Menengok Makna Perkembangan Teknologi Media-
Dan sebaliknya, akses yang besar kepada informasi dan komunikasi menjadi jendela dialektika bagi masa depan kebudayaan. Teknologi tidak dengan langsung memberikan manfaat. Meskipun demikian, berbeda dengan jenis perkakas lainnya, harus diwaspadai bahwa setiap teknologi yang tidak dikelola atua justru dikelola secara salah — akan menjadi bumerang bagi umat manusia.
-

Mengintip Fenomena Mudik
Malah sebaliknya, fenomena mudik menunjukkan betapa wajah kebudayaan kita retak dalam tarik-menarik yang tak pernah tuntas. Namun itu tidak berarti bahwa kesadaran akan asal-usul kurang penting. Sejarah kebudayaan, terutama dalam filsafat kebudayaan Islam, menunjukkan bahwa terputusnya kesadaran historis dengan asal-usul beresiko ambruknya kebudayaan.
-

Keputusasaan Kultural Dalam Bahasa
Dengan demikian tampak jelas bahwa istilah dan ungkapan populer, pada satu sisi, menjadi media masyarakat untuk menunjukan persoalan sosial budayanya yang telah akut dan karatan. Pada sisi lain, juga merupakan cara mereka untuk menghadirkan kembali beberapa endapan realitas yang tersimpan dalam cadangan pengetahuan sosialnya.