Tag: Sketsa

  • Yadih – Ica

    Yadih – Ica

    Kutaksir, setuanya, bocah perempuan itu berumur 16 tahun. Malah mungkin dia baru 15 tahun umurnya.

    Sedari menaiki gerbong kereta, tangannya tak pernah lepas menggandeng lengan anak lelaki kurus, yang umurnya mungkin lebih tua barang satu atau dua tahun.

    “Udah, nyender aja dah di situ,” dengan anggukan kepala si anak lelaki menyuruh bocah perempuan itu menaruh punggungnya di sisi pintu yang tertutup.

    Si perempuan bersandar dengan agak malas. Ia malah menaruh jidatnya di pangkal atas lengan si anak lelaki, tanpa melepaskan gandengan tangannya.

    “Udah lapar belum?”

    Tak terdengar jawaban

    “Nanti ayah beliin makan di stasiun deh. Nanti makan bubur, ya.”

    Hampir di setiap perhentian, si anak lelaki selalu mengaku sangat tahu seluk beluk stasiun dan pernah hidup di sekitarnya. Si bocah perempuan tidak menggubrisnya. Ia lebih sibuk memainkan tangan di rambutnya yang disemir kecoklatan, atau dengan teleponnya yang langsing.

    Si anak lelaki tidak menyerah. Ia terus saja mengajak pasangannya bicara. Aku tak mendengar bocah perempuan itu meresponnya.

    “Seneng nggak ayah dapetin itu?” Si anak lelaki menyentuh kaos oblong hitam yang dipakai bocah perempuan.

    “Seneng nggak? Nggak semua orang punya,” suara si anak lelaki tegas.

    Tak kudengar suara bocah perempuan itu. Mungkin dia tidak menjawabnya. Mungkin juga suaranya terlalu lirih hingga dimakan suara gesekan roda kereta.

    “Seneng nggak?” Suara anak lelaki itu makin keras.

    “Seneng banget. Seneng,” akhirnya si bocah perempuan bersuara lebih keras dan ketus.

    Untuk beberapa menit pasangan berkaos hitam ini terdiam. 

    Anak lelaki itu membiarkan si bocah perempuan membenamkan muka ke dadanya. Ia hanya membalasnya dengan pelukan satu tangan, sebab tangan lain bergelantung menyangga badannya.

    Lengan si anak lelaki nyaris dipenuhi tulisan besar. Tato? Bukan. Hanya goresan spidol hitam berbunyi: YADIH – ICA.

    “Nanti kalau sampai stasiun, kita makan bubur,” anak lelaki itu beberapa kali mengulang kalimat yang sama.

    Sewaktu gerbong kereta semakin longgar, karena semakin banyak penumpang turun, anak lelaki itu bisa menyandarkan badannya ke bagian pintu yang selalu tertutup selama perjalanan. Sepasang kekasih itu berpelukan.

    Rambut keduanya lengket. Kulit mereka hitam kusam. Muka mereka lelah. Mereka berpelukan. Seperti sepasang tikus yang terpojok oleh kepungan.

    Di peron yang tak beratap, air tergenang di satu dua titik. Kakiku susah menghindarinya. Hujan baru saja reda. 

    Kereta melanjutkan perjalanan. Sepasang muda itu berada di dalamnya.

    Sebelum menyeberangi rel, aku mematikan pemutar musik, memutus suara The Hollies:

    Too young to be married
    Too young to be free
    Too young to be married
    But what could they do, they were going to have a baby

  • Tunggu Aku di …

    Tunggu Aku di …

    Di layar TV itu bekas pemain sinetron sedang menjajakan kerudung dagangannya ketika lelaki pendek di sebelah saya berteriak keras, “Aku memang tak bisa …”

    Tak bisa tidak, saya terkejut dan menoleh. Dia, yang bertopi gelap, menutupkan matanya. Kupingnya disumpal headphone.

    Oh dia sedang bersenandung rupanya.

    Dia seperti berhenti bergumam. Nada suaranya lebih normal sewaktu dia berkata, “Lagi tekan Palmerah. Enteni aku ngisor wit ringin wae, yo.”

  • Melewati Tanah Kusir

    Melewati Tanah Kusir

    Ketika kereta melewati pemakaman Tanah Kusir, bocah perempuan berbaju motif bunga besar dengan warna dominan kesumba itu terkagum-kagum.

    “Banyak banget kuburannya, Bu”

    “Ya. Banyak orang sudah mati.”

    “Kita juga nanti mati, Bu?”

    “Nanti semua orang mati pas kiamat.”

    “Ibu nanti mati pas kiamat?”

    “Nggak. Ibu mati sebelon kiamat.”

    Kereta berjalan lebih lambat menjelang masuk Stasiun Kebayoran.

  • Satu Pagi Di Rumah Sakit

    Satu Pagi Di Rumah Sakit

    Sesungguhnya niat saja tidak cukup berguna jika tidak dibarengi dengan menyetel alarm. Saya bangun kesiangan padahal seharusnya saya berangkat lebih pagi untuk mengantri pendaftaran berobat dengan BPJS.

    Firasat saya betul. Saya mendapat nomor 78 ketika papan monitor menunjukkan pasien nomor 15 yang sedang diproses pendaftarannya. Setelah hampir 2 jam, nomor antrian saya dipanggil.

    Salah satu petugas di belakang meja pendaftaran itu bertanya ketika melihat saya membawa berkas pendaftaran.

    Saya jawab, “Saya nomor 78.”

    Dia kembali bertanya lagi.

    Saya jawab lagi, “Iya. Saya nomor 78.”

    Kali ini perempuan itu bertanya lagi dengan mata memandang saya.

    “Nomor 78, mbak. Nomor 78.”

    “Iya, bapak nomor 78. Tapi bapak mau ke dokter spesialis apa?” Tanya perempuan itu dengan suara yang lebih jelas.

    “Ke THT, mbak.”

    Sekarang saya sudah mengantri di poli THT berbaur dengan pasien lain yang mengantri di poli lain. Dokter belum datang. Para pasien mengobrol. Berisik sekali.

  • ANAK MUDA PENJAJA SMARTPHONE

    ANAK MUDA PENJAJA SMARTPHONE

    Anak muda ini cekatan sekali memberi saran untuk hampir segala urusan pembelian smartphone di toko tempat dia bekerja. Untuk urusan pembayaran, misal, dia menyarankan menggunakan kartu kredit. “Harganya lebih murah, dan dapat cash back juga,” begitu alasannya.

    Untuk urusan jenis handphone yang sebaikya dibeli, dia terlebih dulu akan bertanya soal kebiasaan dan kedoyanan si calon pembeli. Barulah setelah itu ia akan menyarankan calon pembelinya untuk memilih beberapa jenis smartphone.

    “Kalau tidak untuk main game, atau tidak banyak membuka aplikasi, smartphone yang ini sudah sangat bagus. Prosessornya quad core dan RAM-nya sudah 1,5 Gb,” katanya sambil menimang smartphone berukur 5 inchi.

    “Ada yang RAM-nya 2 Gb?”

    “Ada. Tapi kalau membeli smartphone sebaiknya jangan cuma melihat RAM-nya. Yang menentukan kecepatan itu prosessornya. RAM kan cuma untuk menyimpan aplikasi,” katanya sambil menyodorkan smartphone jenis yang lain.

    Saya manggut-manggut.

    Giliran soal baterai, anak muda yang rambutnya berpomade itu menyarankan, “Kecuali sangat terpaksa sekali, hindari mengisi baterai smartphone dengan charger di mobil supaya baterai lebih awet.”

    Sebelum saya sempat bertanya lagi, anak muda ini sudah begitu cekatan memberi wawasan baru, “Listriknya kan beda. Kalau listrik di rumah kan dari PLN. Kalau yang di mobil kan listriknya dari bensin.”

    Saya manggut-manggut lagi. Siang itu baru pukul setengah tiga. Magrib masih lama.

  • Senja Koran Pagi

    Senja Koran Pagi

    Butuh waktu beberapa menit untuk menduga-duga asal suara benda yang dilemparkan ke car port kosong kami di pagi buta tadi.

    “Koran,” duganya. Saya sangsi. Kira-kira 10 tahun saya sudah tidak mendengar suara koran jatuh yang dilempar lopernya ke beranda rumah kami.

    “Kita tidak berlangganan koran.”

    “Itu pasti koran,” sekarang suaranya lebih yakin. “Anakmu bulan lalu ikut Kelas Fotografi. Bonusnya, berlangganan koran gratis sebulan.”

    Benar. Koran. Tidak hanya satu, melainkan tiga sekaligus; bertanggal 1, 2 dan 3 Maret.

    Koran harian diantar tiga harian?

    Kau tak salah, setiap pagi adalah senja bagi koran pada hari-hari ini.

  • Salesman Nekad

    Salesman Nekad

    Pernahkah rumah Anda didatangi oleh seorang salesman yang super nekad? Saya mengalaminya beberapa kali. Dulu. Sekarang sudah jarang ada salesman yang ‘bertamu’ ke rumah.

    Pernah, suatu ketika, saya melihat serombongan salesman melintas di depan rumah. Kalau sudah begitu, saya pasti mencoba untuk menyiapkan kalimat sopan untuk menolak tawaran mereka. Biasanya mereka tidak terlalu memaksa jika kita ‘sopani’.

    Dan benar dugaan saya. Tak berapa lama seorang lelaki muda mengetuk pagar. Kalimat sopan sudah saya siapkan dalam hati. Saya menduga, lelaki ini akan mengucapkan, “Selamat sore, pak”. Tapi, bukan itu yang saya dapat.

    Begitu dia melihat muka saya, dari kejauhan si lelaki langsung saja nyerocos dengan suara lantang seperti sedang menegur orang, “Pak! Pak! Tadi ada teman saya ke sini, nggak?”

    Sembari agak terperanjat spontan saya jawab, “Nggak tuh. Ada apa?”

    “Ini pak, saya mau menawarkan .. bla bla bla …,” tetap dengan suara lantang sementara saya belum sampai di depannya.

    Semprul! Entah dimana dulu dia bersekolah jadi salesman: nekad dan tidak beradab.

    Karena jengkel, saya lupakan kalimat sopan yang sudah saya siapkan tadi. Dan hanya ada satu mantra untuk orang macam ini: TIDAK dan TIDAK. Saya bilang dengan perasaan jengkel, “Nggak, mas!”

    Belum sempat saya kembali masuk rumah, si salesman tetap nekad berteriak-teriak dengan kesan menggoda, “Bener nih pak? Nggak nyesel?”

    Astaga!!! Orang macam ini tidak bisa diselesaikan dengan kata-kata. Setahu saya, satu-satunya teknologi yang cukup ampuh untuk melayani orang yang tidak beradab macam ini adalah telunjuk. Dua komputer di rumah saya tidak akan mampu mengalahkan kehandalan teknologi telunjuk untuk menghadapi problem macam ini.

    Telunjuk? Ya, telunjuk. Caranya? Angkat telunjuk kanan ke atas, dan arahkan ke wajah si lelaki itu. Ucapkan mantra lain dengan suara keras dan berat, “APA MAKSUD KAMU?”

    Dan, benar, teknologi telunjuk cukup ampuh. Si salesman ngeloyor pergi dari depan pagar rumah. Mukanya tertunduk. Dia juga kelihatan jengkel. Masa bodoh!

    Ada tipe salesman lain. Tutur bahasanya sopan. Raut wajahnya penuh senyum. Kelihatannya menyenangkan. Kelihatannya.

    “Selamat sore, pak,” kata si salesman tersenyum ramah ketika ia tahu saya datang menyongsong. Belum sempat saya jawab, ia tetap nyerocos memperkenalkan diri, sambil tangannya membuka slot pintu pagar mencoba masuk ke pekarangan rumah. Eit!!!!

    Spontan, teknologi telunjuk lagi-lagi harus dipakai. “SIAPA YANG MENGIJINKAN KAMU MASUK?!,” bentak saya. Nyalinya kelihatan menciut. Setelah berbasa-basi sebentar, dia akhirnya ngeloyor pergi juga.

    Saking sering berhadapan dengan salesman yang terlalu percaya diri macam itu, beberapa bulan lalu pernah terbetik sebuah gagasan dahsyat di kepala saya.

    Saya bilang ke istri saya, “Bagaimana kalau kita memerdekakan diri?”

    “Maksudnya?”

    “Ya memerdekakan diri, menjadi negara otonom.”

    “Wilayahnya?”

    “Wilayahnya ya seluas rumah kita saja.”

    “Ngawur!,” seloroh sang istri.

    “Kalau merdeka kan enak. Bisa melarang orang supaya nggak sembarangan nyelonong masuk pekarangan. Nggak terganggu salesman

    “Ngawur!”

    “Orang harus memperlihatkan passpornya kalau bertandang ke rumah kita. Orang tidak bisa sembarangan malam-malam pacaran cekikian sambil duduk-duduk di rumput depan rumah kita.”

    “Ngawur! Lha kalau tetangga kita yang berkunjung ke rumah bagaimana?”

    “Ya harus menunjukkan pasppor dan visa-nya.”

    “Ngawur! Lha kalau kita yang berkunjung ke rumah mereka bagaimana?”

    “Selama mereka belum memerdekakan diri, kan bebas-bebas saja. Salahnya sendiri tidak memerdekakan diri”

    “Ngawur!”

    “Mumpung lagi musim otonomi lho!”

    Tapi segelas kopi yang disodorkan sang istri sore itu melarutkan gagasan dahsyat tadi. Entah kemana lunturnya gagasan itu.

     

    (Tulisan ini dipublikasikan pertamakali di mailing list Vipamas pada 16 Desember 2003)

  • Anak, Ayah, Dan Musiknya

    Anak, Ayah, Dan Musiknya

    Kenapa Tom tidak menemukan kesenangan di lagu-lagu Leo Kristi? Padahal, selagi dia masih dalam kandungan, saya sering menempelkan tape kecil yang memutar lagu Leo ke perut ibunya. Selama sebelas bulan pertama kelahirannya, lagu Leo hampir selalu diputar selagi dia diemandikan.

    (more…)

  • Uang Di Laci

    Uang Di Laci

    “Aku selalu membayar zakat. Kamu pasti akan jadi anak pintar, ” Bapak meyakinkan saya. Saya manggut-manggut. Saya masih terlalu bocah untuk bisa memahami cara kerja zakat dalam mencerdaskan seorang anak yang bodoh. “Zakat mebersihkan harta kita,” katanya.

    (more…)

  • Pak Koes, Terimakasih. Kami Sudah Tumbuh

    Pak Koes, Terimakasih. Kami Sudah Tumbuh

    “Kamu dicari Pak Koes,” kata seorang teman. Itu terjadi tahun 1987. Teman saya adalah salah seorang yang ikut dalam pertemuan antara pengelola Majalah Mahasiswa UGM Balairung dengan Koesnadi Hardjasoemantri, Rektor UGM waktu itu.

    Saya cengengesan. Tidak percaya dengan omongannya karena beberapa alasan. Pertama, karena teman saya itu juga bicara dengan muka cengengesan. Dia pasti bercanda. Kedua, saya belum dekat dengan rektor. Belum lama saya menjadi reporter di majalah mahasiswa itu. Lagi pula  saat itu saya belum sering berurusan dengan rektorat.

    Cengengesan saya tidak bertahan lama. Teman lain, juga pengelola Majalah Balairung, ikut nimbrung. Dia mengiyakan omongan teman yang tadi. Dahi saya berkerut.

    “Kenapa?” Tanya saya.

    Pak Koes, menurut teman saya itu, menanggapi pemberitaan yang diturunkan dalam Balairung edisi kala itu. Dia berpesan, pemberitaan majalah mahasiswa harus menggunakan bahasa yang baik.

    “Jangan seperti berita yang bilang saya sewot. Siapa yang menulis berita itu?” tanya Pak Koes seperti ditirukan oleh teman saya tadi.

    “Yayan, Pak”

    “Mana Yayan?”

    Konon, teman-teman cengar-cengir saja karena saya memang tidak ikut dalam pertemuan itu.

    “Mosok saya dibilang sewot. Saya tidak sewot. Saya hanya meminta kalian menggunakan cara yang baik dalam menyampaikan pendapat,” konon begitu pak Koes menjelaskan.

    Ya, saya memang menulis berita tentang Menppora Akbar Tanjung yang waktu itu berkunjung ke UGM. Di Gelanggang Mahasiswa UGM digelar acara untuk mempertemukan Akbar dengan para mahasiswa. Saya lupa persisnya kejadian itu, tapi malam itu Akbar sempat disoraki dan dicemooh oleh para mahasiswa yang hadir. Pak Koes kelihatan gusar dengan kelakuan para mahasiswa yang dianggapnya tidak sopan. Dia mengambil alih mikropon dan -dengan suara tegas- meminta mahasiswa untuk bersikap sopan. Ya, saya memang mememilih kata “sewot” dalam berita itu untuk menggambarkan reaksi Pak Koes.

    Terus terang, kaget juga mendengar kabar itu dari teman-teman. Bukan karena Pak Koes tidak suka kata “sewot”. Saya kaget karena baru tersadar bahwa rektor kami yang satu ini sungguh memperhatikan mahasiswanya. Dia menyempatkan diri membaca majalah yang diterbitkan oleh para mahasiswa. Saya tidak yakin bahwa rektor-rektor yang lain di era itu punya perhatian kepada para mahasiswanya.

    Saya yakin, Pak Koes tidak marah dalam pertemuan dengan pengelola Balairung saat itu. Dia memang sering bicara blak-blakan dengan para mahasiswanya. Dia dikenal terbuka dan hangat. Bukan pemarah.

    Diwarnai dengan logat sundanya, sesekali memang terdengar suara Pak Koes agak keras. Seperti sore itu, ketika saya diseret Marjono -teman saya yang juga suaranya sangat keras- untuk bertandang ke rumah dinas rektor. Marjono meyakinkan saya agar bertemu dengan Pak Koes untuk  menyampaikan beberapa gagasan yang sempat kami rembug malam sebelumnya.

    “Ngawur. Kalian ini siapa? Yang realistis saja,” suara Pak Koes agak meninggi sambil kemudian disusul dengan suara tawanya yang khas. Padahal pada detik-detik pertama obrolan, suara Pak Koes sangat rileks.

    Kami berdua -lagi-lagi- cengengesan. Ya, baru saja Marjono menyampaikan gagasan yang kami obrolkan semalaman: mengundang Gorbachev -Presiden Uni Soviet waktu itu- ke UGM. Maklum saja, waktu itu perestroika-nya Gorbachev masih hangat.

    Pak Koes selalu mau mendengar omongan kami -para mahasiswanya. Bahkan gagasan yang tidak realistis sekalipun -seperti mengundang Gorbachev tadi- akan dia dengarkan dulu untuk kemudian dia tanggapi. Dia bahkan selalu siap membuka pintu bagi para mahasiswanya hampir setiap saat. Sama sekali dia tidak tergolong birokratis.

    Pernah suatu siang saya cukup panik karena pada sore hari kami -para pengelola majalah Pijar Fakultas Filsafat UGM- harus berangkat ke Kaliurang untuk menyelenggarakan pelathan jurnalistik internal. Celakanya, sampai siang, kami tidak berhasil mengumpulkan uang untuk melunasi biaya sewa rumah yang dijadikan tempat pelatihan. Dana yang diterima dari Bidang Kemahasiswaan Fakultas Filsafat jelas tidak cukup untuk menyelenggarakan acara itu. Donatur pun nyaris tak ada.

    Andalan terakhir: mengetuk pintu rektorat. Meskipun tanpa perjanjian sebelumnya dan serba mendadak, Pak Koes mau bertemu dengan saya dan teman-teman.

    Sebentar saja saya menyebut latar belakang prolem yang kami hadapi. “Kami butuh tambahan dana, pak,” saya lagsung tembak.

    “Tidak punya dana kok bikin acara?”

    “Tadinya kami pikir akan mendapat sumbangan dari alumni,” saya berkilah.

    “Alumni? Apa alumni filsafat punya dana?” Pak Koes tertawa kecil.

    Muka saya mungkin berubah agak merah. Dia benar. Kami terlalu berlebihan jika berharap mendapatkan donasi yang cukup dari alumni Fakultas Filsafat waktu itu. Dengan dibumbui marah seorang bapak kepada anak-anaknya yang grasa-grusu bikin acara, toh tidak butuh waktu lama bagi Pak Koes untuk meluluskan permintaan kami.

    “Sudah ijin kepolisian?” Pertanyaan itu tiba-tiba muncul menjelang kami pamitan.

    “Belum, Pak”

    “Waduh! Kalian ini bagaimana? Kalau kegiatan di dalam kampus, saya bisa jamin. Tapi kalau di luar kampus seperti ini, kalian harus ijin polisi.” Pak Koes urung berdiri.

    Kami diam.

    “Kalau ada apa-apa, telepon saya! Ke kantor atau ke rumah.”

    “Baik, pak”

    “Punya kan nomor telepon saya?”

    Teman-teman memandangi saya. Saya mengangguk. Saya memamg menyimpan nomor-nomor penting. Nomor telepon Pak Koes adalah salah satunya.

    Mengenang Pak Koes adalah mengenang semangat keterbukaan dan rasa percaya diri. Mereka yang pernah kuliah di UGM pada era kepemimpinannya akan merasakan kerja keras Pak Koes dalam menumbuhkan rasa percaya diri mahasiswa sebagai intelektual muda.

    Pada minggu-minggu pertamanya sebagai rektor, di setiap kesempatan bertemu dengan para mahasiswa, Pak Koes berulang-ulang menyindir kegiatan yang melibatkan mahasiswa hanya sebagai panitia penyelenggara saja. Ya, di hampir setiap kegiatan mahasiswa, para mahasiswa hanya akan mengambil porsi sebagai panitia, pembawa cara, penerima tamu, atau seksi konsumsi saja. Seingat saya, memang begitulah kondisinya sebelum Pak Koes menjadi rektor.

    Kondisi mahasiswa berubah total sejak dia mempmpin UGM. Ada semacam policy (saya lupa, apakah ini tertulis atau tidak) yang mewajibkan setiap acara seminar atau diskusi yang diselenggarakan oleh mahasiswa harus menyertakan mahasiswa sebagai pembicara. “Kalian adalah intelektual muda,” Pak Koes selalu mengingatkan kami begitu. Inilah masa permulaan kebangkitan kepercayaan diri di kalangan mahasiswa. Mahasiswa mana yang tidak bangga duduk bersanding dengan dosen, para ahli dan pakar di sebuah seminar atau diskusi di era itu?

    Policy ini membuat kami -para mahasswa- melahap buku banyak-banyak; menulis makalah secermat mungkin; mengasah argumentasi dengan diskusi-diskusi kecil di berbagai tempat; bekerja keras untuk menjernihkan retorika kami. Kami harus benar-benar siap sepanggung dengan para ahli!

    Sebagai orang yang pernah menjadi aktivis pers mahasiswa, Pak Koes tampaknya tahu betul bahwa pers mahasiswa bisa menjadi tempat yang baik bagi tumbuhnya daya kritis dan intelektuaitas anak muda. Silakan dicatat, dalam era kepemimpinan Pak Koes-lah pers mahasiswa berkembang subur, independen, dan hidup penuh percaya diri.

    Jangan salah, Pak Koes bukan cuma memberikan dukungan kepada aktivis pers mahasiswa saja. Dia memberikan dukungan yang sama kepada unit-unit kegiatan mahasiswa lainnya. Para penghuni Gelanggang Mahasiswa UGM akan menganggukan kepala bersepakat, “Pak Koes tidak pernah pilih kasih”.

    Seseorang, yang nomornya tidak tercatat di handpone saya, malam ini mengirimkan pesan singkat, “Sembari menunggu kabar tentang beliau, mari kita berdoa untuk Bapak Koesnadi Hardjasoemantri” Pesan itu bertanda waktu 07.03.07 21:23. Tadi pagi pesawat Garuda rute Jakarta – Yoga terbakar. Dan Pak Koes adalah salah satu penumpangnya.

    Beberapa jam kemudian, bertanda waktu 08.03.07 00:35, sebuah pesan singkat kembali masuk, “Jam 22:30 Kel. Prof. Koesnadi Hardjasoemantri mengidentifikasi jenasah. Secara resmi keluarga yakin, salah satu jenasah adalah jenasah Pak Koes”

    Siapapun pengirim pesan itu, dia pastilah salah satu dari kami -anak-anak yang dibesarkan di lingkungan kampus yang hangat, egaliter, kreatif, independen dan penuh percaya diri: kampus Koesnadi Hardjasoemantri.

    Pak Koes, selamat jalan.

    Pak Koes, terimakasih. Kami sudah tumbuh.