Kategori: Nyanyian Bocah Gusar

  • Membakar Koran

    Membakar Koran

    Sebelum habis kuteguk secangkir kopi,
    kubakar lagi selembar koran pagi ini.
    Untuk apa membaca, jika aksara-aksara tak jadi kata-kata.
    Untuk apa kata-kata, jika ia tak punya kaki
    untuk menapakkan badannya pada bau tanah yang murni.
    Untuk apa melihat, jika yang tertera hanya ribuan titik hitam
    yang mengaburkan gambar, yang menepiskan kesaksian.

    Sebelum jalan-jalan kembali macet dan berisik,
    kubakar lagi selembar koran pagi ini.
    Biarkan saja angin menerbangkan abunya ke langit,
    mengantarkan harapan beribu orang kemana saja ia mau
    seperti tak pedulinya bahasa yang lumpuh pada nasib nyata
    denyut nadi si papa dan sahaya

    Apa yang kau dapatkan dari selembar koran pagi ini?
    Hanya pikiran-pikiran
    hanya bunyi gemeretak sebuah syaraf di kepala
    hanya harapan-harapan
    hanya degup kencang dada

    Mana peristiwa?
    Mana kejadian?
    Tak dapat kusentuh wajahmu dan mereka
    Tak dapat kau raba kulit mukaku pula

    Selembar koran hanya mengajariku bercuriga dan mendendam
    sebelum usai sebuah malam
    hanya meredam jerit perih luka
    di kakiku sebelum kutahu cerita tentang sebongkah batu tajam.
    Maka kubakar saja selembar koran pagi ini.

    Bahasa telah kehilangan matanya.

    Kabarkan padaku apa isi sebuah pena?

    Jakarta, 1994

  • Silhuet Siapa Itu?

    Silhuet Siapa Itu?

    Siapa dia, lelaki di ujung cakrawala, ujudnya dalam silhuet senja?

    “Aku laskar tua, nak. Tak punya apa-apa di batas ini senja, selain sepasang sepatu lars dan bedil tua juga. Tak ingin apa-apa, selain menjadi raja bagi burung- burung, bagi ikan-ikan, bagi pohonan, bagi monumen dan menara-menara.”

    Yang tua menjadi tua, yang muda menjadi tua, karena ia memilih menjadi serigala.

    “Bukan. Aku hanya serdadu tua saja. Tak ingin apa-apa, selain menjadi suami bagi semua perempuan, menjadi bapak bagi semua bocah, menjadi mercusuar bagi semua kapal.”

    Yang tua menjadi muda, yang muda tetap belia, karena ia mencinta segala-gala; bukan karena ia menguasa segala-gala.

    Siapakah aku dan engkau, dalam rentangan zaman? Siapakah aku dan engkau, dalam silau cahaya yang terpantul dari matahari ke kaca gedung bertingkat?

    Yogya, 14 Nopember 1990. 01.07 WIB

  • Kredo (1)

    Kredo (1)

    akan tetap kucintai dunia ini
    karena tak pernah bisa kupahami

    karena tak pernah bisa kupahami dunia ini
    maka sepanjang hari
    aku telanjangi matahari dari fajar sampai senja
    agar tulang-tulangku menjadi kuat
    maka sepanjang malam
    aku nyanyikan “selamat tidur” pada bulan dan bintang
    agar aku tetap waspada
    meski keindahan menyelimutinya

    karena tak pernah kupahami kamu semua
    maka kugenggam tanganmu untuk kucinta

    aku akan terus bercinta
    karena aku bakal terus bertanya

    Yogyakarta, 29 Juli 1990

  • Sajak Bocah Gamang

    Sajak Bocah Gamang

    (buat: EY)

    yulia,
    yulia, dimana harus kutemukan kamu?
    kabut sisa malam halangi pandanganku
    hawa dingin telah bekukan keringat kerjaku
    dari mana harus kumulai segala kebangkitan, yulia?
    reruntuhan ini tak akan pernah menjadi apa pun
    di bawah ancaman kekuasaan
    yang ingkari pergantian

    yulia,
    yulia,
    jangan ambil jarak
    seorang lelaki yang dihempaskan oleh amarah kekuasaan
    selalu butuhkan kedamaian samadhi sebuah percintaan
    yulia,
    kemana harus kucari tanganmu untuk kugenggam?
    aku gamang melihat antrian pengangguran
    yang dicabik-cabik permainan kekuasaan ya, yulia,
    selalu kekuasaan menjadi ruh iblis setiap zaman

    yulia,
    mendekatlah aku tak tahan sendirian
    melihat senjakala yang angkuh
    yang menelantarkan bocah-bocah di klub malam,
    di rumah-rumah pelacuran,
    di kelas-kelas kosong,
    bocah-bocah yang disalibkan di tengah ijazah yang tanpa rasa

    yulia,
    apakah ini semua mimpi buruk setiap bocah zaman kita?
    dan kita cuma bakal jadi saksi?

    Yogyakarta, 09 Nopember 1989