Kategori: Menulis & Storytelling

  • Bosan Menulis dan Kebosanan Lainnya

    Bosan Menulis dan Kebosanan Lainnya

    Pernah merasa bosan menulis padahal dulunya menulis adalah aktivitas favoritmu? Mungkin bukan bosannya yang jadi masalah—tapi ada hal lain yang lebih dalam yang belum kamu kenali.

    (lebih…)

  • Memimpikan Launching Buku?

    Memimpikan Launching Buku?

    Anda mau menjadi penulis kan?

    Anda sudah menyelesaikan naskah anda. Itu langkah yang bagus dan benar.

    Lalu, anda ingin naskah itu diterbitkan. Itu keinginan yang normal dan benar juga.

    Anda kemudian menawarkan naskah itu ke penerbit yang cocok dengan jenis naskah yang anda tulis dan membidik pasar pembaca yang sesuai pula dengan naskah anda. Itu strategi yang tepat.

    Selanjutnya anda memimpikan acara launching buku besar-besaran dengan liputan media nasional? Nanti dulu! Ini belum tentu harapan yang patut anda patok.

    Saya sering bertemu dengan penulis muda pemula yang, belum-belum, sudah mematok acara launching buku yang heboh sebagai sebuah perayaan.  Seolah-olah, acara launching buku itu menjadi salah satu tujuannya.

    Sebagai penulis, tentu saja anda patut bergembira atas terbitnya naskah anda. Anda boleh merayakannya tapi sebaiknya itu tidak disangkutpautkan dengan acara launching buku.  Acara peluncuran buku anda lebih merupakan salah satu cara promosi saja. Agar efektif, seluruh rencana dan pernak-pernik acara launching buku harus didasarkan atas tujuan promosi; tidak dicampur aduk dengan sentimen-sentimen pribadi anda sebagai penulis.

    Karena hanya merupakan salah satu cara promosi saja, acara launching buku sebetulnya belum tentu cocok untuk segala jenis buku yang diterbitkan. Bukan mustahil promosi buku anda pun tidak cocok dilangsungkan dalam bentuk acara launching buku. Bukan mustahil. Jadi, sebaiknya anda tidak memasukan acara launcing buku ke dalam daftar impian anda; apalagi menjadikannya sebagai tujuan dari proses kreatif anda sebagai penulis. Tidak usah.

    Ketimbang memimpikan launching buku sebagai perayaan sukses anda dalam menyelesaikan satu naskah, anda sebaiknya memusatkan perhatian untuk menghasilkan karya yang bagus, dan menemukan serta menjalin kerjasama dengen penerbit yang cocok: yang bisa membuat naskah anda menjadi buku yang hebat, mempromosikannya dengan tepat, dan melayani  pembaca yang anda sasar dengan baik.

  • Self Publishing Bukan Melulu Menggandakan Naskah

    Self Publishing Bukan Melulu Menggandakan Naskah

    Ada banyak alasan kenapa seorang penulis memutuskan untuk menerbitkan sendiri naskah karyanya. Mungkin dia berniat mendapatkan penghasilan yang lebih besar dari sekadar royalti yang diberikan oleh perusahaan penerbitan buku. Mungkin dia meyakini ada pasar untuk naskah karyanya -yang tidak terendus oleh penerbit lain. Mungkin dia ingin menjajal konsep produk rancangannya di pasar, yang diabaikan oleh penerbit lain. Dan, mungkin masih ada sejumlah alasan lain.

    Apapun alasan seorang penulis untuk menerbitkan sendiri karyanya, dia harus menyadari bahwa menerbitkan sendiri (self publishing) bukanlah melulu soal menggandakan sendiri naskahnya. Anda tidak sedang menerbitkan sendiri buku anda jika yang anda lakukan hanyalah menulis naskah lalu menyerahkannya ke penyedia jasa print on demand yang mengaku sebagai penyedia jasa self publishing -hanya karena dia memberikan layanan membuat sampul dan menata halaman buku, mencetak buku, dan menjajakannya di Internet. Yang anda lakukan itu hanyalah menggandakan naskah.

    Ketika anda memutuskan untuk menerbitkan naskah anda sendiri, maka pada saat itu anda harus segera berpikir dan bertindak sebagai penerbit. Apakah yang menjadi perhatian utama penerbit? Pembaca! Penerbit bekerja untuk memastikan buku yang akan diterbitkannya itu cocok dan tepat untuk pembaca yang memang disasarnya. Isinya, ukurannya, formatnya, tata letaknya, rancangan sampulnya, harganya, dan tempat menjajakannya cocok dan tepat untuk pembaca yang memang diincarnya.

    Itulah sebabnya penerbit tidak pernah begitu saja mencetak naskah yang datang. Editor di penerbit akan memastikan bahwa naskah yang akan diterbitkan sudah pas untuk pembaca. Ia bukan melulu mengurus salah ketik atau ejaan. Editor akan memastikan bahwa isinya selengkap yang dibutuhkan pembaca dan disajikan dengan cara yang pas pula. Ia akan memeriksa sistematika dan akurasi informasi di buku-buku non fiksi. Ia juga akan mencermati karakter, plot dan elemen lain dalam buku-buku fiksi.

    Penerbit akan mengandalkan para perancang grafisnya untuk menyusun tata letak halaman dan sampul buku, serta teknik mencetaknya yang sesuai dengan selera pembaca. Ukuran buku pun dipertimbangkan secermat mungkin dengan mengacu kepada kenyamanan dalam membaca.

    Pembaca juga yang menjadi perhatian penerbit ketika menetapkan harga jual buku. Harga jual tidak melulu mempertimbangkan keuntungan yang ingin ditangguk oleh penerbit. Harga jual yang murah tidak selalu berarti merugi. Harga jual yang murah juga bukan jaminan pembaca akan membelinya.

    Jika tak punya divisi atau bagian distribusi sendiri, penerbit biasanya menunjuk distributor untuk mendistribusikan buku-buku terbitannya. Penerbit akan memilih distriubutor yang mampu menjangkau outlet dan kanal yang tepat untuk sebagian besar pembaca yang disasarnya.

    Soal tempat menjajakan buku ini perlu menjadi perhatian khusus bagi siapapun yang berniat menerbitkan buku sendiri. Perhatikan tempat yang biasanya dikunjungi oleh pembaca yang anda sasar. Jangan sampai anda malah menjajakan buku anda di tempat atau situs web penyedia layanan self publishing. Situs layanan self publishing itu tempat para penulis berkumpul, bukan tempat para pembaca berkerumun mencari bacaan.

    Sebagai penerbit, seorang penulis harus berorientasi kepada pembaca. Ia tidak bisa mengumbar maunya sendiri tanpa mempertimbangkan pembaca yang disasarnya. Self publishing bukanlah jalan keluar bagi penulis yang egois -yang tidak mengijinkan orang lain mengedit naskahnya, yang mengabaikan pembaca ketika menentukan banyak aspek sebuah buku.

  • Bersembunyi Di Timbunan Ide

    Bersembunyi Di Timbunan Ide

    Merasa tak punya ide itu tidak bagus bagi stamina seorang penulis. Perasaan macam itu terkadang membuat si penulis loyo, karena merasa kurang darah. Itu sebabnya seorang penulis sebaiknya memahami dan menguasai betul keterampilan-keterampilan untuk menemukan dan menggali ide tulisan.

    Sebaliknya, merasa punya banyak ide juga bisa membahayakan kerja si penulis. Jika si penulis tak bisa mengelolanya, ide-ide itu hanya akan merongrong proses kerja si penulis. Ide-ide  yang tak terkelola itu akan seperti gerombolan anjing yang menguntit sambil terus menerus menyalak ketika kita sedang olahraga lari pagi. Jika tidak ditempatkan dalam rencana kerja yang jelas, ide-ide itu bahkan hanya akan menjadi alasan bagi seorang penulis untuk tidak pernah menyelesaikan sebuah tulisan.

    Sangat sering saya bertemu penulis -pemula maupun bangkotan- yang tidak menyelesaikan sebuah karya karena dia tergiur oleh ide-ide baru lain. Dia meninggalkan begitu saja draft tulisannya yang mungkin baru setengah jadi -atau bahkan baru sampai 3 paragraf karena tergoda untuk mengembangkan ide tulisan yang lain. Lalu, dia tergoda lagi untuk mengembangkan ide yang lain lagi. Begitu seterusnya sehingga ia tak pernah menyelesaikan satu karya secara utuh.

    Seorang penulis, tentu saja, tidak harus sangat setia kepada rencana awal kerjanya. Ia boleh saja meninggalkan draft yang sudah separuh jalan ia tulis, lalu berpaling untuk mengembangkan dan menyelesaikan ide lain. Itu bisa saja dilakukan untuk alasan-alasan yang lebih jelas. Misal, ide yang baru mungkin lebih mendesak untuk diwujudkan ketimbang ide sebelumhnya. Atau, si penulis bisa lebih cepat menyelesaikan ide barunya ketimbang ide lama yang penuh hambatan yang belum mampu ia atasi.

    Jika anda merasa punya banyak ide untuk ditulis, segeralah anda kelola dan tempatkan dalam rencana kerja yang jelas. Setiap ide itu harus berujung menjadi sebuah karya. Jangan biarkan ide-ide baru menjadi tempat bersembunyi anda ketika anda tidak menyelesaikan sebuah karya.

    Jangan berdalih bahwa proses menulis lebih penting daripada menyelesaikan sebuah tulisan. Kenapa? Sebab menyelesaikan sebuah tulisan adalah bagian dari proses menulis.