Kategori: Sketsa

  • Malam Takbiran

    Malam Takbiran

    Itu mungkin tahun 79 atau 80. Saya lupa persisnya.

    Selain menjadi tukang jahit, Bapak membuka toko kelontong. Khusus bulan Ramadhan, jenis barang dagangan bertambah di toko kami: pakaian, sandal, dan sepatu. Kalau kopiah dan sajadah memang tersedia juga di luar Ramadhan.

    Pada hari terakhir Ramadhan biasanya semua toko di sekitar pasar -termasuk toko kecil kami- sudah ramai sekali. Kalau sudah ramai begitu, seluruh anggota keluarga dikerahkan untuk melayani pembeli.

    Pada hari terakhir Ramadhan toko kami tetap buka pada saat Magrib. Kami bergantian Shalat Magrib dan makan malam agar tetap bisa melayani pembeli yang berjibun.

    Saya masih ingat betapa penuh sesaknya toko kecil kami pada malam itu. Para pembeli berebut memilih sandal, sepatu, atau pakaian yang kami taruh di dus besar. Mereka bisa memilih sendiri barang yang mereka mau beli.

    Bukan cuma memilih, dalam suasana Malam Takbiran, lumrah pada masa itu orang menjajal barang yang mereka mau beli. Bukan pemandangan yang aneh jika calon pembeli membuka kemasan sepatu atau sandal, lalu mereka mencobanya. Jika merasa cocok, mereka akan minta pilihannya segera dibungkus, lalu membayar sesuai harga. Jika tidak cocok, barang dikembalikan ke dus besar seadanya.

    Ya, seadanya. Jangan terlalu berharap setiap calon pembeli akan mengembalikan sepatu atau sandal ke kemasannya setelah mereka coba.

    Beruntung kalau barang-barang itu tetap ada di dus besar lalu dipilih oleh calon pembeli lainnya. Tidak sedikit yang jatuh ke lantai dan tidak berhasil dikembalikan, lalu tanpa sengaja tersepak oleh kerumunan, terlempar ke kolong salah satu rak di toko kami, dan tersembunyi di sana untuk waktu yang lama sekali.

    Tidak seperti orang lain yang berusaha masuk ke toko untuk berbelanja, seorang ibu dengan satu anak dalam gendongannya dan satu anak lelaki dalam tuntunannya hanya hilir mudik dari depan toko kami ke depan toko sebelah. Berkali-kali saya melihat mereka lalulalang di luar saja sambil mengamati keramaian di dalam toko.

    Percaya atau tidak, sebelum jam 8 malam, stok pakaian, sepatu, sandal nyaris ludes. Sisanya sangat sedikit dan berserakan. Banyak barang keluar dari bungkusnya. Beberapa sepatu dan sandal terlepas dari pasangannya.

    Hampir pukul 20:30 malam itu, toko kami mulai sepi. Bukan karena tidak ada lagi orang yang mau berbelanja, melainkan karena tak ada lagi stok barang yang bisa kami jual. Bapak memerintahkan anak-anaknya untuk membantu menutup toko.

    Seorang lelaki tergopoh-gopoh masuk bersama si ibu yang menggendong anak kecil dan menuntun bocah lelaki tadi.
    Wajah si ayah -si lelaki itu- tampak capek sekali.

    “Sana pilih baju sama sepatunya,” kata si ayah agak berbisik.

    Si ibu -perempuan itu- menyapukan pandangannya ke sekeliling toko kami. Tak ada barang yang bisa dipilih. Tinggal sisa-sisa.

    Si anak -bocah lelaki itu- bergegas ke rak tempat tumpukan sandal dan sepatu yang mungkin sejak sore sudah dia incar. Dia melongokkan kepalanya ke serakan sepatu. Dia mengambil satu dua sepatu lalu ditaruh lagi. Dia lakukan itu berulang-ulang.

    “Sepatu dan sandalnya sudah habis,” kata Bapak.

    Tapi si bocah dan ayahnya tidak menggubris. Mereka tetap mencari-cari sepatu.

    “Yang ini saja,” bisik si ayah.

    “Tapi kebesaran,” timpal si anak.

    “Tidak apa-apa,” bujuk si ayah.

    “Tapi ini kiri semua,” kata si anak.

    “Tidak apa-apa,” kata si ayah.

    Bapak menghampiri mereka.

    “Maaf, ini tidak bisa saya jual,” kata Bapak.

    Wajah si anak berubah memelas. Begitu juga wajah ayahnya.

    “Toko lain sudah tutup, Pak Haji,” kata si ayah seolah meminta diijinkan membeli sepatu kiri semua yang kebesaran buat anaknya.

    “Saya tidak menjual sepatu kiri semua ini. Maaf,” Bapak tetap menolak.

    Si ibu -perempuan yang menggendong bayi itu- diam saja, tidak terlibat dalam percakapan. Sorot matanya tidak menyatakan dirinya hadir di toko kami. Entah sedang berada dimana pikiran perempuan itu.

    Dia mungkin sudah menunggu suaminya sejak siang tadi. Suaminya baru tiba pada malam hari ketika hampir semua toko sudah tutup dan kehabisan barang dagangan.

    Terkecuali anak yang digendong, saya masih ingat bagaimana sorot mata mereka bertiga ketika meninggalkan toko kami. Dan itu hampir selalu muncul dalam ingatan saya di setiap Malam Takbiran.

  • Pengamen Karaoke Stasiun Tanahabang

    Pengamen Karaoke Stasiun Tanahabang

    Mereka yang nyaris saban hari ke stasiun Tanahabang agak sore atau malam pasti pernah melihat lelaki berkumis dan berperawakan kecil.

    Dia itu penyanyi karaoke jalanan yang selalu berdiri di gerbang masuk stasiun. Tepatnya, pengamen karaoke.

    Saya tidak pernah mendengar dia, lelaki yang selalu bertopi itu, mendendangkan lagu selain yang berirama dangdut.

    Salah satu lagu Oma Irama yang sering dia nyanyikan adalah lagu yang satu bagian syairnya berbunyi “Langit bagai atap rumahku dan bumi sebagai lantainya.”

    Sore kemarin, selagi tanah masih terang, ia -dengan mikropon di tangannya- tidak terlihat sedang menyanyi. Tumben.

    Dari speaker yang ditaruh dekat kakinya, nada bicaranya terdengar seperti Oma Irama sedang berpidato. 

    Soal politik? Bukan.

    Soal agama? Bukan. 

    Soal musik? Juga bukan.

    Yang terdengar oleh mereka yang sedang bergegas menuju lobby gedung stasiun, lelaki itu berseru-seru, “Helm! Helm! Helm!”

    “Wah, nggak denger dia,” lanjutnya.

    Berkali-kali, lewat pengeras suara mesin karaokenya, ia berteriak lagi, “Helm! Helm! Helm.”

    Wajah lelaki itu menghadap ke gedung stasiun. Begitu juga muka orang di sekitarnya. 

    Di ujung sana, sekitar 50 meter sebelum lobby stasiun, perempuan berkerudung berjalan tergesa seolah takut ketinggalan kereta. Perempuan berkerudung itu baru menghentikan langkahnya ketika serombongan perempuan lain yang juga berkerudung menuding-nuding kepalanya.

    Si perempuan langsung berbalik arah sambil melepas helm berwarna hijau bertuliskan “Grab” yang ia tak lepas sejak turun dari motor ojek. Dia, perempuan itu, bergegas.

    Di gerbang stasiun, pengemudi ojek menunggunya. Menunggu helmnya, maksud saya.

    “Alhamdulillah. Akhirnya dia denger juga,” kata si pengamen, masih lewat speaker sistem karokenya, sambil menyeka keringat di tengkuknya.

    Sore itu udara memang masih sangat panas. Selain juga berkeringat, pundak saya terasa lebih tegang, dengan beban setumpuk buku dan obat-obatan di tas. 

    Hari itu saya harus membawa tas kulit yang agak besar supaya bisa mengangkut barang-barang saya yang masih tersisa di laci meja karena hari berikutnya saya sudah tidak bekerja di sana lagi.

    Tak berapa lama, suara pengamen berperawakan kecil dan berkumis besar itu terdengar. Ia menyanyikan lagu yang itu lagi, “Langit bagai atap rumahku dan bumi sebagai lantainya. Hidupku menyusuri jalan.” 

    Cengkoknya sudah mirip Bang Haji Rhoma.

  • Membeli Sate Sandung Lamur

    Membeli Sate Sandung Lamur

    Ini cerita tentang menikmati sate lezat di Pasar Beringharjo, Yogya, meskipun penjualnya bermuka masam.

    (lebih…)

  • Percakapan Kepalang Tanggung di Gerbong Kereta

    Percakapan Kepalang Tanggung di Gerbong Kereta

    Saya -dan mungkin siapapun- tak bisa mengelak dari suara dan obrolan penumpang lain saat berdesakan di kereta. Terkecuali jika menyumpal kuping dengan headphone.

    Sudah pasti derak roda kereta, dengusan blower pendingin gerbong, rengekan TV iklan, dan gerendengan penumpang yang berdiri agak jauh membuat kita jarang bisa menangkap dengan jelas suara dan obrolan itu.

    Kadang kuping saya hanya menangkap satu kata saja, atau satu kalimat saja. Betul sesekali percakapan yang agak panjang bisa lalu lalang juga di gendang telinga saya.

    Tapi tentu saya tidak tahu persis konteks suara yang berseliweran itu.

    “Ini sudah malam. Saya sudah di kereta. Kalau saya tidak serius, saya gak mau angkat telepon Ibu. Sekarang Ibu maunya apa?” Tanya lelaki berkulit legam yang menempelkan handphone ramping di telinganya.

    Kereta belum berangkat, dan penumpang tidak terlalu berjejal di gerbong malam itu. Suaranya terdengar tegas dan jelas.

    “Jadi, duitnya ada berapa?” Itu pertanyaan seorang ibu yang memangku anak perempuannya yang tidur terkulai di pelukannya, pada malam dan gerbong yang berbeda.

    “Kan lu tahu sendiri. Tadi dapet 50 rebu. Dimintain juga tadi,” jawab lelaki yang berdiri berpegangan pada tiang bagasi gerbong. Saya yakin, dia suami perempuan itu.

    “Iya. Jadi tinggal berapa?” Suara si ibu mendesak.

    Meski bersuara, ia tetep menutup mulutnya yang bergigi agak maju ke depan itu dengan selendang lusuh.

    “Dua puluh rebu.”

    Si perempuan terdiam.

    “Cukup dah buat malam ini mah,” suara lelaki itu seperti mencoba menentramkan sang istri yang matanya terlihat gundah.

    Ia menggaruk betis dengan ujung kaki lainnya tanpa melepas sandal jepit berdebu yang ia pakai, sebelum membetulkan letak topinya yang tak kalah kotor dari kaos lusuhnya.

    Tak ada percakapan lagi diantara mereka sampai saya turun di stasiun tujuan.

    “Udahlah. Itu biasa aja,” kata anak muda berbaju bersih, bersisir rapi di gerbong kereta pagi pada kesempatan lain lagi

    “Nggak bisa, bro. Itu nggak bisa diterima. Anaknya sampe nangis ketakutan,” kata anak muda lain berkaos polo.

    “Besok-besok aku nggak mau ikutan lagi. Nyesel,” sambungnya setelah beberapa saat tak ada percakapan diantara mereka.

    “Sekarang,” lanjut si kaos polo tetap dengan suara pelan, “hampir setiap habis sholat, aku inget terus pertanyaan terakhir ibu itu.”

    Keduanya terdiam sampai di tempat tujuan.

    Penumpang berhamburan di stasiun akhir. Elevator terengah-engah mengerek mereka yang akan menyebrang ke peron lain.

    Tak ada percakapan kecùali teriakan, “Yang kanan jalan! Yang kanan jalan!”

  • Yayan

    Yayan

    Dalam beberapa urusan, istri saya memperkenalkan dirinya sebagai Bu Yayan. Banyak orang mengira dia memang bernama Yayan.

    Ketika memesan ojek motor online, satu dua kali saya mendapat balasan dari pengemudi begini, “OTW. Mohon ditunggu, Bu.”

    Biasanya saya segera merespons, “Saya bukan ‘Bu’. Saya itu ‘Pak’.”

    Bagi sebagian orang, hidup itu bergerak lamban. Bagi sebagian lain, hidup dijalani tergesa-gesa. Si pengemudi terlanjur menutup chat di aplikasi pemesanan ojek.

    Itu sebabnya, di tempat penjemputan, dia tetap percaya diri berteriak-teriak mencari saya, “Bu Yayan! Bu Yayan!”

    Ketika saya sudah mapan duduk di jok bagian belakang, si pengemudi meminta maaf. Saya menepuk pundaknya dua kali. Motor melaju.

    Sesampai di tempat tujuan, si pengemudi kembali meminta maaf. Saya menepuk pundaknya satu kali. Motor melaju.

  • Payung dan Jas Hujan

    Payung dan Jas Hujan

    Di tengah cuaca yang tak menentu macam begini, saya selalu membawa payung kecil dan jas hujan tipis setiap hari kerja. Agak memenuhi tas salempang kecil saya, memang; tapi itu sepadan dengan keuntungannya.

    Tadi malam, berkat payung kecil itu, gerimis tidak menghalangi saya untuk berjalan kaki dari kantor ke stasiun.

    Hujan yang belum berhenti di stasiun tujuan juga tidak mencegah saya untuk mencari tumpangan roda dua. Saya tinggal memakai jas hujan dan memesan tumpangan secara online.

    “Saya sudah di pangkalan. Saya memakai jas hujan warna biru,” tulis saya lewat chat ke si pengemudi.

    Barang 5 atau 6 menit kemudian, pemuda yang rambutnya basah berjalan ke arah saya sambil menggenggam teleponnnya.

    Dia melihat saya dan bertanya dengan suara lantang, “Pak Ardian?”

    Saya menggeleng.

    Masih dengan suara keras, dia berpaling ke arah lain, “Pak Ardian!”

    Seseorang yang sudah terbungkus jas hujan, persis di sebelah lelaki yang berteriak-tariak itu, mengacungkan tangan.

    “Pak Ardian?”

    “Iya.”

    Pengemudi itu mengernyitkan dahinya. Ia melihat ke arah teleponnya sebentar, sebelum berkata dengan suara keras, “Di sini ditulisnya pake jas hujan biru.”

    “Bener kan? Saya pake jas hujan biru,” balas penumpangnya tegas sambil menunjuk jas hujannya yang berwarna hijau.

    Tumpangan, yang saya tunggu-tunggu, baru datang 2 menit kemudian. Lama sekali rasanya.

  • Pak Koes, Terimakasih. Kami Sudah Tumbuh

    Pak Koes, Terimakasih. Kami Sudah Tumbuh

    “Kamu dicari Pak Koes,” kata seorang teman. Itu terjadi tahun 1987. Teman saya adalah salah seorang yang ikut dalam pertemuan antara pengelola Majalah Mahasiswa UGM Balairung dengan Koesnadi Hardjasoemantri, Rektor UGM waktu itu.

    Saya cengengesan. Tidak percaya dengan omongannya karena beberapa alasan. Pertama, karena teman saya itu juga bicara dengan muka cengengesan. Dia pasti bercanda. Kedua, saya belum dekat dengan rektor. Belum lama saya menjadi reporter di majalah mahasiswa itu. Lagi pula  saat itu saya belum sering berurusan dengan rektorat.

    Cengengesan saya tidak bertahan lama. Teman lain, juga pengelola Majalah Balairung, ikut nimbrung. Dia mengiyakan omongan teman yang tadi. Dahi saya berkerut.

    “Kenapa?” Tanya saya.

    Pak Koes, menurut teman saya itu, menanggapi pemberitaan yang diturunkan dalam Balairung edisi kala itu. Dia berpesan, pemberitaan majalah mahasiswa harus menggunakan bahasa yang baik.

    “Jangan seperti berita yang bilang saya sewot. Siapa yang menulis berita itu?” tanya Pak Koes seperti ditirukan oleh teman saya tadi.

    “Yayan, Pak”

    “Mana Yayan?”

    Konon, teman-teman cengar-cengir saja karena saya memang tidak ikut dalam pertemuan itu.

    “Mosok saya dibilang sewot. Saya tidak sewot. Saya hanya meminta kalian menggunakan cara yang baik dalam menyampaikan pendapat,” konon begitu pak Koes menjelaskan.

    Ya, saya memang menulis berita tentang Menppora Akbar Tanjung yang waktu itu berkunjung ke UGM. Di Gelanggang Mahasiswa UGM digelar acara untuk mempertemukan Akbar dengan para mahasiswa. Saya lupa persisnya kejadian itu, tapi malam itu Akbar sempat disoraki dan dicemooh oleh para mahasiswa yang hadir. Pak Koes kelihatan gusar dengan kelakuan para mahasiswa yang dianggapnya tidak sopan. Dia mengambil alih mikropon dan -dengan suara tegas- meminta mahasiswa untuk bersikap sopan. Ya, saya memang mememilih kata “sewot” dalam berita itu untuk menggambarkan reaksi Pak Koes.

    Terus terang, kaget juga mendengar kabar itu dari teman-teman. Bukan karena Pak Koes tidak suka kata “sewot”. Saya kaget karena baru tersadar bahwa rektor kami yang satu ini sungguh memperhatikan mahasiswanya. Dia menyempatkan diri membaca majalah yang diterbitkan oleh para mahasiswa. Saya tidak yakin bahwa rektor-rektor yang lain di era itu punya perhatian kepada para mahasiswanya.

    Saya yakin, Pak Koes tidak marah dalam pertemuan dengan pengelola Balairung saat itu. Dia memang sering bicara blak-blakan dengan para mahasiswanya. Dia dikenal terbuka dan hangat. Bukan pemarah.

    Diwarnai dengan logat sundanya, sesekali memang terdengar suara Pak Koes agak keras. Seperti sore itu, ketika saya diseret Marjono -teman saya yang juga suaranya sangat keras- untuk bertandang ke rumah dinas rektor. Marjono meyakinkan saya agar bertemu dengan Pak Koes untuk  menyampaikan beberapa gagasan yang sempat kami rembug malam sebelumnya.

    “Ngawur. Kalian ini siapa? Yang realistis saja,” suara Pak Koes agak meninggi sambil kemudian disusul dengan suara tawanya yang khas. Padahal pada detik-detik pertama obrolan, suara Pak Koes sangat rileks.

    Kami berdua -lagi-lagi- cengengesan. Ya, baru saja Marjono menyampaikan gagasan yang kami obrolkan semalaman: mengundang Gorbachev -Presiden Uni Soviet waktu itu- ke UGM. Maklum saja, waktu itu perestroika-nya Gorbachev masih hangat.

    Pak Koes selalu mau mendengar omongan kami -para mahasiswanya. Bahkan gagasan yang tidak realistis sekalipun -seperti mengundang Gorbachev tadi- akan dia dengarkan dulu untuk kemudian dia tanggapi. Dia bahkan selalu siap membuka pintu bagi para mahasiswanya hampir setiap saat. Sama sekali dia tidak tergolong birokratis.

    Pernah suatu siang saya cukup panik karena pada sore hari kami -para pengelola majalah Pijar Fakultas Filsafat UGM- harus berangkat ke Kaliurang untuk menyelenggarakan pelathan jurnalistik internal. Celakanya, sampai siang, kami tidak berhasil mengumpulkan uang untuk melunasi biaya sewa rumah yang dijadikan tempat pelatihan. Dana yang diterima dari Bidang Kemahasiswaan Fakultas Filsafat jelas tidak cukup untuk menyelenggarakan acara itu. Donatur pun nyaris tak ada.

    Andalan terakhir: mengetuk pintu rektorat. Meskipun tanpa perjanjian sebelumnya dan serba mendadak, Pak Koes mau bertemu dengan saya dan teman-teman.

    Sebentar saja saya menyebut latar belakang prolem yang kami hadapi. “Kami butuh tambahan dana, pak,” saya lagsung tembak.

    “Tidak punya dana kok bikin acara?”

    “Tadinya kami pikir akan mendapat sumbangan dari alumni,” saya berkilah.

    “Alumni? Apa alumni filsafat punya dana?” Pak Koes tertawa kecil.

    Muka saya mungkin berubah agak merah. Dia benar. Kami terlalu berlebihan jika berharap mendapatkan donasi yang cukup dari alumni Fakultas Filsafat waktu itu. Dengan dibumbui marah seorang bapak kepada anak-anaknya yang grasa-grusu bikin acara, toh tidak butuh waktu lama bagi Pak Koes untuk meluluskan permintaan kami.

    “Sudah ijin kepolisian?” Pertanyaan itu tiba-tiba muncul menjelang kami pamitan.

    “Belum, Pak”

    “Waduh! Kalian ini bagaimana? Kalau kegiatan di dalam kampus, saya bisa jamin. Tapi kalau di luar kampus seperti ini, kalian harus ijin polisi.” Pak Koes urung berdiri.

    Kami diam.

    “Kalau ada apa-apa, telepon saya! Ke kantor atau ke rumah.”

    “Baik, pak”

    “Punya kan nomor telepon saya?”

    Teman-teman memandangi saya. Saya mengangguk. Saya memamg menyimpan nomor-nomor penting. Nomor telepon Pak Koes adalah salah satunya.

    Mengenang Pak Koes adalah mengenang semangat keterbukaan dan rasa percaya diri. Mereka yang pernah kuliah di UGM pada era kepemimpinannya akan merasakan kerja keras Pak Koes dalam menumbuhkan rasa percaya diri mahasiswa sebagai intelektual muda.

    Pada minggu-minggu pertamanya sebagai rektor, di setiap kesempatan bertemu dengan para mahasiswa, Pak Koes berulang-ulang menyindir kegiatan yang melibatkan mahasiswa hanya sebagai panitia penyelenggara saja. Ya, di hampir setiap kegiatan mahasiswa, para mahasiswa hanya akan mengambil porsi sebagai panitia, pembawa cara, penerima tamu, atau seksi konsumsi saja. Seingat saya, memang begitulah kondisinya sebelum Pak Koes menjadi rektor.

    Kondisi mahasiswa berubah total sejak dia mempmpin UGM. Ada semacam policy (saya lupa, apakah ini tertulis atau tidak) yang mewajibkan setiap acara seminar atau diskusi yang diselenggarakan oleh mahasiswa harus menyertakan mahasiswa sebagai pembicara. “Kalian adalah intelektual muda,” Pak Koes selalu mengingatkan kami begitu. Inilah masa permulaan kebangkitan kepercayaan diri di kalangan mahasiswa. Mahasiswa mana yang tidak bangga duduk bersanding dengan dosen, para ahli dan pakar di sebuah seminar atau diskusi di era itu?

    Policy ini membuat kami -para mahasswa- melahap buku banyak-banyak; menulis makalah secermat mungkin; mengasah argumentasi dengan diskusi-diskusi kecil di berbagai tempat; bekerja keras untuk menjernihkan retorika kami. Kami harus benar-benar siap sepanggung dengan para ahli!

    Sebagai orang yang pernah menjadi aktivis pers mahasiswa, Pak Koes tampaknya tahu betul bahwa pers mahasiswa bisa menjadi tempat yang baik bagi tumbuhnya daya kritis dan intelektuaitas anak muda. Silakan dicatat, dalam era kepemimpinan Pak Koes-lah pers mahasiswa berkembang subur, independen, dan hidup penuh percaya diri.

    Jangan salah, Pak Koes bukan cuma memberikan dukungan kepada aktivis pers mahasiswa saja. Dia memberikan dukungan yang sama kepada unit-unit kegiatan mahasiswa lainnya. Para penghuni Gelanggang Mahasiswa UGM akan menganggukan kepala bersepakat, “Pak Koes tidak pernah pilih kasih”.

    Seseorang, yang nomornya tidak tercatat di handpone saya, malam ini mengirimkan pesan singkat, “Sembari menunggu kabar tentang beliau, mari kita berdoa untuk Bapak Koesnadi Hardjasoemantri” Pesan itu bertanda waktu 07.03.07 21:23. Tadi pagi pesawat Garuda rute Jakarta – Yoga terbakar. Dan Pak Koes adalah salah satu penumpangnya.

    Beberapa jam kemudian, bertanda waktu 08.03.07 00:35, sebuah pesan singkat kembali masuk, “Jam 22:30 Kel. Prof. Koesnadi Hardjasoemantri mengidentifikasi jenasah. Secara resmi keluarga yakin, salah satu jenasah adalah jenasah Pak Koes”

    Siapapun pengirim pesan itu, dia pastilah salah satu dari kami -anak-anak yang dibesarkan di lingkungan kampus yang hangat, egaliter, kreatif, independen dan penuh percaya diri: kampus Koesnadi Hardjasoemantri.

    Pak Koes, selamat jalan.

    Pak Koes, terimakasih. Kami sudah tumbuh.